Cita Tanah Mahardika
  • Tentang Kami
  • Aktivitas Kami
    • Pengembangan Organisasi
    • Kajian
    • Liputan
    • Kampanye
  • Produk Komunitas
  • Publikasi
    • Laporan
    • Artikel
Donasi
en English id Indonesian
No Result
View All Result
Cita Tanah Mahardika
  • Tentang Kami
  • Aktivitas Kami
    • Pengembangan Organisasi
    • Kajian
    • Liputan
    • Kampanye
  • Produk Komunitas
  • Publikasi
    • Laporan
    • Artikel
Donasi
en English id Indonesian
No Result
View All Result
Cita Tanah Mahardika
  • Liputan

Mengenal Kembali Kata Cukup Bersama Petani Taningkola: Sebuah Catatan Perjalanan

  • Penulis:
  • Syukron
  • -  27 Februari 2026
Perjalanan menuju kebun milik keluarga pak Tristan yang berada di atas bukit. Foto: Syukron

Perjalanan menuju kebun milik keluarga pak Tristan yang berada di atas bukit. Foto: Syukron

Dibaca Normal 7 menit
A A
Print Friendly, PDF & Email

Taningkola adalah satu dari 11 Desa di Kecematan Una-Una, kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Secara geografis, desa Taningkola berada di gugusan kepulauan Togean atau lebih tepatnya di pulau Batudaka. Daerah yang menyimpan cerita tentang hubungan antara petani Taningkola dengan babi rusa – hewan endemik dengan nama ilmiah Babyrousa togeanensis [Togian Islands Babirusa] – yang pasang surut akibat keharusan berbagi ruang hidup dan juga sumber pangan. Dibalik cerita yang kadang menempatkan hewan sebagai musuh bagi tanaman di kebun, orang-orang yang saya temui malah memiliki konsep dan praktik dalam menjaga hubungan itu tetap tumbuh dalam keseimbangan.

Bersedekah dengan Babi Rusa dan Tikus di Taningkola

Dari Desa Taningkola, kami—saya, Laura, Devid, dan Irene—melangkah menuju perbukitan Bone-Bone. Jalannya menanjak perlahan, menyusuri punggung perbukitan yang kering dan berbatu. Jaraknya hanya sekitar dua puluh menit. Tapi waktu di sini tak diukur dengan menit. Ia bergerak sesuai irama langkah dan napas yang tertinggal di jalan setapak. Di depan kami, Isal dan adiknya memandu jalan. Kami berangkat sekitar pukul sepuluh pagi— saat orang-orang desa mulai melonggarkan urat, menjelang waktu istirahat. Waktu terbaik untuk bertamu ke kebun, tanpa mengganggu.

Kebun yang kami kunjungi adalah milik keluarga pak Tristan berada di atas bukit, satu hektar luasnya, tanah hitam dan penuh humus tapi menyembunyikan batuan karang yang keras. “Ini milik mertuaku,” kata Pak Tristan sambil menunjuk deretan tanaman nilam yang rimbun di satu sisi, dan jagung yang mulai meninggi di sisi lainnya. Sudah empat tahun ia berkebun di sini. Sistemnya tumpang sari. Nilam ditanam lebih dulu—butuh waktu enam bulan hingga panen. Tiga bulan kemudian, jagung pulung menyusul tumbuh di sela-sela. Dua hasil panen dalam satu periode. “Lumayan, bisa saling topang,” katanya. Di sela tanaman utama, tumbuh pohon kelapa, pepaya, dan pisang. Tak dirawat khusus, tapi jika berbuah, itu rezeki.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 28
Jagung Pulung dan Nilam tumbuh berdampingan di kebun milik mertua pak Tristan. Foto: Syukron

Tapi di kebun ini, bertani tak hanya soal menanam dan memanen. Di pinggiran lahan, Pak Tristan menanam singkong dan ubi kayu. Bukan untuk dimakan semata, tapi sebagai benteng alami dari hama yang paling ditakuti: babi rusa. “Kalau kamu lihat itu,” tunjuknya pada singkong yang tercabik tanahnya, “ulah babi rusa. Tapi tak apa, yang penting jangan sampai jagung saya yang kena.”

Ia menyambung, “Kami di sini sudah biasa ‘bersedekah’ untuk babi rusa.” Tikus juga bagian dari perhitungan. Mereka tak dibasmi, hanya dialihkan. Potongan daging kelapa dibiarkan berserakan di sekitar tanaman jagung—sebagai sogokan kecil untuk membelokkan selera mereka.

Ada kepercayaan di desa ini: jika babi rusa atau tikus diganggu, dibunuh, atau diracun, mereka justru akan datang dengan lebih ganas. Maka mereka dibiarkan hidup, diajak berdamai dalam diam. Hasil panen boleh berkurang, tapi keharmonisan tetap dijaga.

Di tengah kebun, berdiri pondok kayu kecil. Sederhana, cukup untuk empat orang duduk berhimpit. Di sanalah segalanya bermula dan berakhir. Tempat beristirahat, memasak, menyimpan alat semprot, dan mengamati kebun dari pusatnya.

–

Malam sebelumnya saya sempat mendapat prolog singkat dari Pak Israh, sekretaris desa Taningkola tentang tanaman Nilam yang ada di Desa Taningkola, Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una Provinsi Sulawesi Tengah

“Dari Sumatera, tahun 2010,” katanya lirih, seperti sedang membuka album kenangan. Waktu itu, nilam dianggap harapan baru. Minyaknya wangi, harganya menggiurkan. Pernah suatu masa, harga per kilogramnya tembus dua juta rupiah. Seluruh desa berbondongbondong menanam. Ladang-ladang berganti rupa. Kebun sayur dan jagung digantikan semak wangi bernama nilam.

Tapi seperti semua yang datang terlalu cepat, euforianya pun tak bertahan lama. Pasar berubah, harga merosot. Kini, nilam hanya dihargai lima ratus hingga tujuh ratus rupiah per kilogram. “Masih ada yang tanam,” ujar Pak Israh, “tapi tidak lagi dengan semangat seperti dulu. Sekarang, lebih karena sudah terlanjur biasa.”

Namun bukan hanya soal harga yang membuat Pak Israh resah. Ada beban lain yang tak kalah berat, yang diam-diam mengikis dari dalam: penyulingan. Untuk menghasilkan minyak nilam, setiap kali proses penyulingan membutuhkan sekitar 1,5 kubik kayu bakar. Itu setara dengan beberapa batang pohon utuh. “Bayangkan jika 3 tempat menyuling bersamaan,” katanya. “Berapa banyak pohon yang harus tumbang?”

Pak Israh bukan hanya khawatir soal hari ini, tapi tentang tahun-tahun mendatang—saat anak-anak mereka tumbuh, dan hutan yang kini tinggal rimbun di tepian desa, pelan-pelan berubah jadi lengang.

–

Matahari mulai meninggi ketika kami meninggalkan kebun Pak Tristan. Langkah kami kembali menyusuri tanah berbatu menuju kebun berikutnya—milik keluarga Pak Isal. Di sana, di balik semak nilam yang menjulang sebatas pinggang, pondokan kayu sudah terlihat dari kejauhan. Lebih besar dari yang sebelumnya, cukup untuk memuat kami semua duduk bersila, bernaung dari panas, dan membagi waktu untuk jeda.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 28
Pondok kayu/rumah kebun milik keluarga Pak Isal. Foto: Syukron

Keluarga Pak Isal sudah menunggu. Anak-anak berseliweran, tawa mereka seperti music yang menyambut kedatangan kami. Di sudut pondokan, aroma kayu terbakar mulai tercium samar. Mama Isal sedang meracik makan siang: ikan bakar yang dipanggang di atas arang, kolak singkong yang manis dan hangat, serta jagung—tambahan kecil yang kami bawa dari kebun Pak Tristan. Amunisi makan siang, kata mereka. Tapi bagi kami, semua ini terasa seperti pesta.

Kami sempat merasa canggung menerima semua suguhan itu. Dalam perjalanan yang kami niatkan hanya untuk melihat, mencatat, dan belajar, kami justru dijamu layaknya tamu kehormatan. Tapi rasa sungkan kami cepat mencair ketika Pak Isal berseloroh, “Lebih baik tidak bisa turun pulang karena kekenyangan daripada tidak bisa turun karena kelaparan!”

Tawa pun pecah. Di tengah kebun nilam yang dikepung semak dan bebatuan, kami mendadak merasa seperti di rumah. Di sela suapan, obrolan kami kembali mengalir— tentang harga nilam, tentang lahan kebun, tentang babi rusa.

Dakwah Kebun di Taningkola

Kalau boleh, saya lebih pilih KTP saya ditulis pengangguran saja daripada petani,” ucap Ikal, setengah tertawa, setengah getir. “Malu saya. Petani, tapi masih beli sayur di pasar.”

Ikal, anak yang dulu terkenal bandel dan sering bersembunyi di hutan karena takut dipukul ayahnya, kini menjadi petani. Tapi bukan sembarang petani—semangatnya seperti tak kenal lelah, menyalip pemuda-pemuda lain yang mungkin lebih memilih sekolah, lebih pintar, lebih “pantas”.

Keuletannya datang bukan dari pelatihan atau gelar sarjana, melainkan dari satu hal: rasa penasaran. Ia belajar tanpa guru, tanpa buku teks, tanpa rumus-rumus agronomi. Semua otodidak. Ia mencoba membuat kompos dari kotoran kelelawar, mengawinkan kelapa hibrida, menyetek bibit coklat, sampai meracik pupuk cair dari limbah yang tak terpikirkan orang lain.

Satu kali, pupuk racikannya—campuran kotoran kelelawar dan bahan-bahan entah apa lagi—disiramkan ke tanaman nilam. Alih-alih subur, daun-daun nilam malah berubah kuning pucat, seperti wajah orang keracunan. Tapi Ikal justru terkekeh. “Yang kau buat itu bukan pupuk, tapi herbisida alami,” kata saya sambil tertawa.

Pernah juga dia terganggu melihat kutu putih menempel di batang cabe. Dalam logika sederhananya, kutu putih itu mirip ketombe. Dan kalau ketombe bisa dibasmi dengan sampo, maka ia semprotkan sampo ke tanaman cabe. Hasilnya sudah bisa ditebak— tanamannya mati. Semua itu diceritakannya tanpa beban, dengan tawa lebar, seakan kegagalan hanyalah bumbu yang memperkaya cerita.

Menurutnya, warga jarang menanam sayuran bukan karena tak bisa, tapi karena tak menguntungkan. Harga jualnya terlalu rendah. Mereka lebih memilih cengkeh, walau hanya sekali panen setahun atau kelapa—yang tiap tiga bulan bisa dipanen—dan kedua Komoditi itu dianggap jauh lebih stabil. Nilam pun begitu. Ia memang rewel, tapi kalau berhasil, ada pemasukan bulanan yang bisa diandalkan.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 25
pondokan mama angkat Ikal yang berada di kebun. Foto: Syukron

Dari pondokan mama angkat Ikal, mata kami mengarah ke bawah, ke kebun yang menempel di lereng curam. Atau mungkin lebih tepat disebut tepi jurang. Tanah di sini seolah bermain-main dengan gravitasi. Satu langkah keliru, tubuh bisa tergelincir bersama mimpi yang belum sempat dipanen.

“Kami baru selesai panen nilam. Rencana mau tambah cengkeh juga,” ujar Ikal. Padahal, di luar sana harga cabai sedang bagus—menyentuh delapan puluh ribu rupiah per kilo. Tapi mereka belum berani. Belum tahu bagaimana cara agar cabai bisa panen berkali-kali. Karena selama ini, hanya panen pertama yang benar-benar menghasilkan. Sisanya, selalu begitu: buah menghitam, daun menguning, lalu patah harapan di tengah musim.

Saya, yang selama ini hanya berkebun di lahan datar seluas lapangan bola, nyaris tak percaya melihat bagaimana orang-orang di sini menanam di tanah yang miring nyaris tegak lurus. Naik turun bukit sambil memanggul hasil panen. Dan bukan hanya itu. Apa yang mereka usahakan pun kerap gagal panen. Tapi anehnya, mereka bisa dan masih menanam.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 25
(dari kiri) Ikaldan Wahyudin Nur sedang istirahat sambil menikmati kelapa muda di pondokan milik bapak Ris yang setengah ruangannya dipenuhi nilam kering. Foto: Syukron.

Ikal mengajak kami—saya, Bang Udin, dan Jati—menyusuri lereng. Kami berjalan melintasi bukit menuju pondokan milik Bapak Ris. Di sana, puluhan bibit kakao baru tumbuh setinggi tiga puluh sentimeter. Kata Ikal, masih butuh lima bulan lagi sebelum bisa dipindahkan ke lahan. Di dalam pondokan, setengah ruangan sudah dipenuhi tumpukan nilam kering. Wangi samar minyak atsiri mulai memenuhi udara, bercampur bau tanah basah dan kayu bakar.

Ikal membuatkan kopi dari tungku api yang masih menyala. Gerak-geriknya cekatan, seperti pemandu yang sudah biasa menemani tamu berjalan kaki menelusuri kebun, dari bukit ke bukit. Sambil menyeruput kopi, dia kembali bercerita tentang kondisi kebun-kebun di Taningkola.

Di kawasan Kafufu ini, jenis tanah pun beraneka rupa. Di kebun mama angkatnya, tanah cenderung berpasir. Di kebun Bapak Ris, tanahnya coklat dan liat. Sedangkan kebun milik Ikal sendiri, yang terletak di atas bukit, tanahnya hitam namun tipis—karena tepat di bawahnya terbentang batu karang.

Jati menyebut perjalanan ini sebagai safari dakwah kebun. Kami tertawa mendengarnya. Tapi memang itulah yang kami lakukan: menyusuri kebun, satu demi satu, belajar langsung dari lapangan, dari cerita-cerita orang yang hidupnya sepenuhnya bergantung pada tanah.

Diskusi kami berlanjut: bagaimana cara memaksimalkan lahan? Bagaimana menyuburkan tanah yang keras? Bagaimana agar tak berhenti mencoba, meski musim selalu berubah dan hasil kadang tak sebanding harap.

Di tempat seperti Taningkola, harapan tumbuh bukan dari benih, tapi dari keuletan. Dari kaki yang tak pernah lelah mendaki. Dari tangan-tangan yang terus menanam, bahkan saat hasilnya belum tentu panen.

Selama ini, mereka membuka lahan untuk menanam. Setiap musim, yang dipikirkan adalah bagaimana membuat tanaman tumbuh cepat dan lebat. Tapi tak banyak yang bertanya, bagaimana kabar tanahnya? Apakah ia masih sehat? Apakah ia masih sanggup menopang panen berikutnya?

Pola ini yang ingin kami dalami. Bahwa yang perlu disuburkan bukan hanya tanaman, tapi tanah itu sendiri. Tanah yang terus diberi makan tanpa sempat bernapas, hanya akan menua dan mati perlahan. Kita perlu menghidupkannya kembali. Memberinya makan, bukan racun. Dan semua itu sebenarnya tidak butuh bahan dari jauh. Alam sudah menyediakan. Daun kering, limbah dapur, kotoran ternak—semuanya bisa menjadi penghidup, kalau kita tahu caranya.

Ilmu pengetahuan pertanian kini telah berkembang. Kita bahkan bisa memperbanyak mikroorganisme yang dibutuhkan tanah. Bakteri-bakteri yang biasanya tumbuh di bawah pohon bambu, kini bisa digandakan dalam ember, disiramkan ke tanah, disebarkan seperti doa.

Proses transfer pengetahuan inilah yang menjadi inti dari kegiatan kami. Agar Ikal dan para petani di Taningkola tidak lagi berkesimpulan: “Tanah ini tak subur, mari buka lahan baru.” Karena jika pola itu terus berulang, hutan akan terkikis, lahan yang dibuka makin jauh dari desa, dan makin banyak ancaman yang terbuka. Air bisa hilang. Mata air yang dulu abadi bisa lenyap diam-diam.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 25
foto: Syukron

Bang Udin menyimpan iri pada air di Taningkola. “Di Bogor, saya harus bayar untuk air masuk rumah. Itu pun kadang mampet,” katanya. Sedangkan di sini, air jatuh sendiri mengalir ke rumah-rumah melimpah tumpah tanpa harus memikirkan tagihan air.

Saya pribadi kagum pada kotoran kelelawar. Di antara semua jenis pupuk yang berasal dari kotoran hewan, kelelawar punya kasta tertinggi. Mewah. Mahal kalau dijual. Tapi di sini? Tinggal masuk ke goa, ambil sepuasnya. Tapi sekali lagi: ambil sepuasnya, bukan sebanyak-banyaknya. Karena di tempat seperti Taningkola, keseimbangan adalah harga mati. Sedikit saja berat sebelah, kekacauan bisa datang. Alam punya logika sendiri. Begitu juga manusia.

“Kalau masyarakat kampung menanam di kebun dengan menghitung jarak tanam dan memberi pupuk,” kata Jati, “maka hewan-hewan di hutan juga petani. Mereka makan buah, bawa lari ke dalam hutan, dan tinggalkan biji di tanah. Nanti tumbuh lagi.”

Babi rusa, burung-burung dan hewan lainnya, semuanya punya peran dalam ladang yang tak dipetak-petak ini. Mereka tidak mengenal kebun, tidak menyusun strategi panen, tapi mereka tahu satu hal yang barangkali sudah mulai kita lupakan: cukup itu cukup. Tidak perlu berlebih.

Alam mengajarkan kita menanam, tapi juga mengingatkan untuk tidak rakus. Untuk tahu kapan memberi, dan kapan menunggu. Karena dalam putaran hidup yang lambat dan sunyi di Taningkola, yang bertahan bukan yang paling kuat. Tapi yang paling tahu cara menjaga keseimbangan.

***

  • Baca juga tulisan menarik lainnya dari
  • Syukron
  • atau artikel terkait
  • Liputan
  • (citatanahmahardika.org)
Tag babi rusakomposnilamorganikTaningkolatogean
Sebelumnya

Pembelajaran Organisasi: Sebuah Upaya untuk Tumbuh Secara Sadar dan Jujur

  • Liputan

Mengenal Kembali Kata Cukup Bersama Petani Taningkola: Sebuah Catatan Perjalanan

  • Penulis:
  • Syukron
  • -  27 Februari 2026
Perjalanan menuju kebun milik keluarga pak Tristan yang berada di atas bukit. Foto: Syukron

Perjalanan menuju kebun milik keluarga pak Tristan yang berada di atas bukit. Foto: Syukron

Dibaca Normal 7 menit
A A

Taningkola adalah satu dari 11 Desa di Kecematan Una-Una, kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Secara geografis, desa Taningkola berada di gugusan kepulauan Togean atau lebih tepatnya di pulau Batudaka. Daerah yang menyimpan cerita tentang hubungan antara petani Taningkola dengan babi rusa – hewan endemik dengan nama ilmiah Babyrousa togeanensis [Togian Islands Babirusa] – yang pasang surut akibat keharusan berbagi ruang hidup dan juga sumber pangan. Dibalik cerita yang kadang menempatkan hewan sebagai musuh bagi tanaman di kebun, orang-orang yang saya temui malah memiliki konsep dan praktik dalam menjaga hubungan itu tetap tumbuh dalam keseimbangan.

Bersedekah dengan Babi Rusa dan Tikus di Taningkola

Dari Desa Taningkola, kami—saya, Laura, Devid, dan Irene—melangkah menuju perbukitan Bone-Bone. Jalannya menanjak perlahan, menyusuri punggung perbukitan yang kering dan berbatu. Jaraknya hanya sekitar dua puluh menit. Tapi waktu di sini tak diukur dengan menit. Ia bergerak sesuai irama langkah dan napas yang tertinggal di jalan setapak. Di depan kami, Isal dan adiknya memandu jalan. Kami berangkat sekitar pukul sepuluh pagi— saat orang-orang desa mulai melonggarkan urat, menjelang waktu istirahat. Waktu terbaik untuk bertamu ke kebun, tanpa mengganggu.

Kebun yang kami kunjungi adalah milik keluarga pak Tristan berada di atas bukit, satu hektar luasnya, tanah hitam dan penuh humus tapi menyembunyikan batuan karang yang keras. “Ini milik mertuaku,” kata Pak Tristan sambil menunjuk deretan tanaman nilam yang rimbun di satu sisi, dan jagung yang mulai meninggi di sisi lainnya. Sudah empat tahun ia berkebun di sini. Sistemnya tumpang sari. Nilam ditanam lebih dulu—butuh waktu enam bulan hingga panen. Tiga bulan kemudian, jagung pulung menyusul tumbuh di sela-sela. Dua hasil panen dalam satu periode. “Lumayan, bisa saling topang,” katanya. Di sela tanaman utama, tumbuh pohon kelapa, pepaya, dan pisang. Tak dirawat khusus, tapi jika berbuah, itu rezeki.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 28
Jagung Pulung dan Nilam tumbuh berdampingan di kebun milik mertua pak Tristan. Foto: Syukron

Tapi di kebun ini, bertani tak hanya soal menanam dan memanen. Di pinggiran lahan, Pak Tristan menanam singkong dan ubi kayu. Bukan untuk dimakan semata, tapi sebagai benteng alami dari hama yang paling ditakuti: babi rusa. “Kalau kamu lihat itu,” tunjuknya pada singkong yang tercabik tanahnya, “ulah babi rusa. Tapi tak apa, yang penting jangan sampai jagung saya yang kena.”

Ia menyambung, “Kami di sini sudah biasa ‘bersedekah’ untuk babi rusa.” Tikus juga bagian dari perhitungan. Mereka tak dibasmi, hanya dialihkan. Potongan daging kelapa dibiarkan berserakan di sekitar tanaman jagung—sebagai sogokan kecil untuk membelokkan selera mereka.

Ada kepercayaan di desa ini: jika babi rusa atau tikus diganggu, dibunuh, atau diracun, mereka justru akan datang dengan lebih ganas. Maka mereka dibiarkan hidup, diajak berdamai dalam diam. Hasil panen boleh berkurang, tapi keharmonisan tetap dijaga.

Di tengah kebun, berdiri pondok kayu kecil. Sederhana, cukup untuk empat orang duduk berhimpit. Di sanalah segalanya bermula dan berakhir. Tempat beristirahat, memasak, menyimpan alat semprot, dan mengamati kebun dari pusatnya.

–

Malam sebelumnya saya sempat mendapat prolog singkat dari Pak Israh, sekretaris desa Taningkola tentang tanaman Nilam yang ada di Desa Taningkola, Kecamatan Una-Una, Kabupaten Tojo Una Provinsi Sulawesi Tengah

“Dari Sumatera, tahun 2010,” katanya lirih, seperti sedang membuka album kenangan. Waktu itu, nilam dianggap harapan baru. Minyaknya wangi, harganya menggiurkan. Pernah suatu masa, harga per kilogramnya tembus dua juta rupiah. Seluruh desa berbondongbondong menanam. Ladang-ladang berganti rupa. Kebun sayur dan jagung digantikan semak wangi bernama nilam.

Tapi seperti semua yang datang terlalu cepat, euforianya pun tak bertahan lama. Pasar berubah, harga merosot. Kini, nilam hanya dihargai lima ratus hingga tujuh ratus rupiah per kilogram. “Masih ada yang tanam,” ujar Pak Israh, “tapi tidak lagi dengan semangat seperti dulu. Sekarang, lebih karena sudah terlanjur biasa.”

Namun bukan hanya soal harga yang membuat Pak Israh resah. Ada beban lain yang tak kalah berat, yang diam-diam mengikis dari dalam: penyulingan. Untuk menghasilkan minyak nilam, setiap kali proses penyulingan membutuhkan sekitar 1,5 kubik kayu bakar. Itu setara dengan beberapa batang pohon utuh. “Bayangkan jika 3 tempat menyuling bersamaan,” katanya. “Berapa banyak pohon yang harus tumbang?”

Pak Israh bukan hanya khawatir soal hari ini, tapi tentang tahun-tahun mendatang—saat anak-anak mereka tumbuh, dan hutan yang kini tinggal rimbun di tepian desa, pelan-pelan berubah jadi lengang.

–

Matahari mulai meninggi ketika kami meninggalkan kebun Pak Tristan. Langkah kami kembali menyusuri tanah berbatu menuju kebun berikutnya—milik keluarga Pak Isal. Di sana, di balik semak nilam yang menjulang sebatas pinggang, pondokan kayu sudah terlihat dari kejauhan. Lebih besar dari yang sebelumnya, cukup untuk memuat kami semua duduk bersila, bernaung dari panas, dan membagi waktu untuk jeda.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 28
Pondok kayu/rumah kebun milik keluarga Pak Isal. Foto: Syukron

Keluarga Pak Isal sudah menunggu. Anak-anak berseliweran, tawa mereka seperti music yang menyambut kedatangan kami. Di sudut pondokan, aroma kayu terbakar mulai tercium samar. Mama Isal sedang meracik makan siang: ikan bakar yang dipanggang di atas arang, kolak singkong yang manis dan hangat, serta jagung—tambahan kecil yang kami bawa dari kebun Pak Tristan. Amunisi makan siang, kata mereka. Tapi bagi kami, semua ini terasa seperti pesta.

Kami sempat merasa canggung menerima semua suguhan itu. Dalam perjalanan yang kami niatkan hanya untuk melihat, mencatat, dan belajar, kami justru dijamu layaknya tamu kehormatan. Tapi rasa sungkan kami cepat mencair ketika Pak Isal berseloroh, “Lebih baik tidak bisa turun pulang karena kekenyangan daripada tidak bisa turun karena kelaparan!”

Tawa pun pecah. Di tengah kebun nilam yang dikepung semak dan bebatuan, kami mendadak merasa seperti di rumah. Di sela suapan, obrolan kami kembali mengalir— tentang harga nilam, tentang lahan kebun, tentang babi rusa.

Dakwah Kebun di Taningkola

Kalau boleh, saya lebih pilih KTP saya ditulis pengangguran saja daripada petani,” ucap Ikal, setengah tertawa, setengah getir. “Malu saya. Petani, tapi masih beli sayur di pasar.”

Ikal, anak yang dulu terkenal bandel dan sering bersembunyi di hutan karena takut dipukul ayahnya, kini menjadi petani. Tapi bukan sembarang petani—semangatnya seperti tak kenal lelah, menyalip pemuda-pemuda lain yang mungkin lebih memilih sekolah, lebih pintar, lebih “pantas”.

Keuletannya datang bukan dari pelatihan atau gelar sarjana, melainkan dari satu hal: rasa penasaran. Ia belajar tanpa guru, tanpa buku teks, tanpa rumus-rumus agronomi. Semua otodidak. Ia mencoba membuat kompos dari kotoran kelelawar, mengawinkan kelapa hibrida, menyetek bibit coklat, sampai meracik pupuk cair dari limbah yang tak terpikirkan orang lain.

Satu kali, pupuk racikannya—campuran kotoran kelelawar dan bahan-bahan entah apa lagi—disiramkan ke tanaman nilam. Alih-alih subur, daun-daun nilam malah berubah kuning pucat, seperti wajah orang keracunan. Tapi Ikal justru terkekeh. “Yang kau buat itu bukan pupuk, tapi herbisida alami,” kata saya sambil tertawa.

Pernah juga dia terganggu melihat kutu putih menempel di batang cabe. Dalam logika sederhananya, kutu putih itu mirip ketombe. Dan kalau ketombe bisa dibasmi dengan sampo, maka ia semprotkan sampo ke tanaman cabe. Hasilnya sudah bisa ditebak— tanamannya mati. Semua itu diceritakannya tanpa beban, dengan tawa lebar, seakan kegagalan hanyalah bumbu yang memperkaya cerita.

Menurutnya, warga jarang menanam sayuran bukan karena tak bisa, tapi karena tak menguntungkan. Harga jualnya terlalu rendah. Mereka lebih memilih cengkeh, walau hanya sekali panen setahun atau kelapa—yang tiap tiga bulan bisa dipanen—dan kedua Komoditi itu dianggap jauh lebih stabil. Nilam pun begitu. Ia memang rewel, tapi kalau berhasil, ada pemasukan bulanan yang bisa diandalkan.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 25
pondokan mama angkat Ikal yang berada di kebun. Foto: Syukron

Dari pondokan mama angkat Ikal, mata kami mengarah ke bawah, ke kebun yang menempel di lereng curam. Atau mungkin lebih tepat disebut tepi jurang. Tanah di sini seolah bermain-main dengan gravitasi. Satu langkah keliru, tubuh bisa tergelincir bersama mimpi yang belum sempat dipanen.

“Kami baru selesai panen nilam. Rencana mau tambah cengkeh juga,” ujar Ikal. Padahal, di luar sana harga cabai sedang bagus—menyentuh delapan puluh ribu rupiah per kilo. Tapi mereka belum berani. Belum tahu bagaimana cara agar cabai bisa panen berkali-kali. Karena selama ini, hanya panen pertama yang benar-benar menghasilkan. Sisanya, selalu begitu: buah menghitam, daun menguning, lalu patah harapan di tengah musim.

Saya, yang selama ini hanya berkebun di lahan datar seluas lapangan bola, nyaris tak percaya melihat bagaimana orang-orang di sini menanam di tanah yang miring nyaris tegak lurus. Naik turun bukit sambil memanggul hasil panen. Dan bukan hanya itu. Apa yang mereka usahakan pun kerap gagal panen. Tapi anehnya, mereka bisa dan masih menanam.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 25
(dari kiri) Ikaldan Wahyudin Nur sedang istirahat sambil menikmati kelapa muda di pondokan milik bapak Ris yang setengah ruangannya dipenuhi nilam kering. Foto: Syukron.

Ikal mengajak kami—saya, Bang Udin, dan Jati—menyusuri lereng. Kami berjalan melintasi bukit menuju pondokan milik Bapak Ris. Di sana, puluhan bibit kakao baru tumbuh setinggi tiga puluh sentimeter. Kata Ikal, masih butuh lima bulan lagi sebelum bisa dipindahkan ke lahan. Di dalam pondokan, setengah ruangan sudah dipenuhi tumpukan nilam kering. Wangi samar minyak atsiri mulai memenuhi udara, bercampur bau tanah basah dan kayu bakar.

Ikal membuatkan kopi dari tungku api yang masih menyala. Gerak-geriknya cekatan, seperti pemandu yang sudah biasa menemani tamu berjalan kaki menelusuri kebun, dari bukit ke bukit. Sambil menyeruput kopi, dia kembali bercerita tentang kondisi kebun-kebun di Taningkola.

Di kawasan Kafufu ini, jenis tanah pun beraneka rupa. Di kebun mama angkatnya, tanah cenderung berpasir. Di kebun Bapak Ris, tanahnya coklat dan liat. Sedangkan kebun milik Ikal sendiri, yang terletak di atas bukit, tanahnya hitam namun tipis—karena tepat di bawahnya terbentang batu karang.

Jati menyebut perjalanan ini sebagai safari dakwah kebun. Kami tertawa mendengarnya. Tapi memang itulah yang kami lakukan: menyusuri kebun, satu demi satu, belajar langsung dari lapangan, dari cerita-cerita orang yang hidupnya sepenuhnya bergantung pada tanah.

Diskusi kami berlanjut: bagaimana cara memaksimalkan lahan? Bagaimana menyuburkan tanah yang keras? Bagaimana agar tak berhenti mencoba, meski musim selalu berubah dan hasil kadang tak sebanding harap.

Di tempat seperti Taningkola, harapan tumbuh bukan dari benih, tapi dari keuletan. Dari kaki yang tak pernah lelah mendaki. Dari tangan-tangan yang terus menanam, bahkan saat hasilnya belum tentu panen.

Selama ini, mereka membuka lahan untuk menanam. Setiap musim, yang dipikirkan adalah bagaimana membuat tanaman tumbuh cepat dan lebat. Tapi tak banyak yang bertanya, bagaimana kabar tanahnya? Apakah ia masih sehat? Apakah ia masih sanggup menopang panen berikutnya?

Pola ini yang ingin kami dalami. Bahwa yang perlu disuburkan bukan hanya tanaman, tapi tanah itu sendiri. Tanah yang terus diberi makan tanpa sempat bernapas, hanya akan menua dan mati perlahan. Kita perlu menghidupkannya kembali. Memberinya makan, bukan racun. Dan semua itu sebenarnya tidak butuh bahan dari jauh. Alam sudah menyediakan. Daun kering, limbah dapur, kotoran ternak—semuanya bisa menjadi penghidup, kalau kita tahu caranya.

Ilmu pengetahuan pertanian kini telah berkembang. Kita bahkan bisa memperbanyak mikroorganisme yang dibutuhkan tanah. Bakteri-bakteri yang biasanya tumbuh di bawah pohon bambu, kini bisa digandakan dalam ember, disiramkan ke tanah, disebarkan seperti doa.

Proses transfer pengetahuan inilah yang menjadi inti dari kegiatan kami. Agar Ikal dan para petani di Taningkola tidak lagi berkesimpulan: “Tanah ini tak subur, mari buka lahan baru.” Karena jika pola itu terus berulang, hutan akan terkikis, lahan yang dibuka makin jauh dari desa, dan makin banyak ancaman yang terbuka. Air bisa hilang. Mata air yang dulu abadi bisa lenyap diam-diam.

Whatsapp Image 2026 02 27 At 16 25
foto: Syukron

Bang Udin menyimpan iri pada air di Taningkola. “Di Bogor, saya harus bayar untuk air masuk rumah. Itu pun kadang mampet,” katanya. Sedangkan di sini, air jatuh sendiri mengalir ke rumah-rumah melimpah tumpah tanpa harus memikirkan tagihan air.

Saya pribadi kagum pada kotoran kelelawar. Di antara semua jenis pupuk yang berasal dari kotoran hewan, kelelawar punya kasta tertinggi. Mewah. Mahal kalau dijual. Tapi di sini? Tinggal masuk ke goa, ambil sepuasnya. Tapi sekali lagi: ambil sepuasnya, bukan sebanyak-banyaknya. Karena di tempat seperti Taningkola, keseimbangan adalah harga mati. Sedikit saja berat sebelah, kekacauan bisa datang. Alam punya logika sendiri. Begitu juga manusia.

“Kalau masyarakat kampung menanam di kebun dengan menghitung jarak tanam dan memberi pupuk,” kata Jati, “maka hewan-hewan di hutan juga petani. Mereka makan buah, bawa lari ke dalam hutan, dan tinggalkan biji di tanah. Nanti tumbuh lagi.”

Babi rusa, burung-burung dan hewan lainnya, semuanya punya peran dalam ladang yang tak dipetak-petak ini. Mereka tidak mengenal kebun, tidak menyusun strategi panen, tapi mereka tahu satu hal yang barangkali sudah mulai kita lupakan: cukup itu cukup. Tidak perlu berlebih.

Alam mengajarkan kita menanam, tapi juga mengingatkan untuk tidak rakus. Untuk tahu kapan memberi, dan kapan menunggu. Karena dalam putaran hidup yang lambat dan sunyi di Taningkola, yang bertahan bukan yang paling kuat. Tapi yang paling tahu cara menjaga keseimbangan.

***

  • Baca juga tulisan menarik lainnya dari
  • Syukron
  • atau artikel terkait
  • Liputan
  • (citatanahmahardika.org)
Tag babi rusakomposnilamorganikTaningkolatogean
Sebelumnya

Pembelajaran Organisasi: Sebuah Upaya untuk Tumbuh Secara Sadar dan Jujur

Terkait Lainnya

Whatsapp Image 2025 12 19 At 09 56

Pembelajaran Organisasi: Sebuah Upaya untuk Tumbuh Secara Sadar dan Jujur

2 Februari 2026
DSCF4734

Melangkah Perlahan: Perjalanan Transformasi Diri dan Komunitas

27 Januari 2026
Whatsapp Image 2025 12 07 At 17 17

Belajar Sama-Sama: Passe’reanta dan Sikatutui Dua Organisasi Perempuan Tanakeke Menjajaki Peluang Kolaborasi

7 Desember 2025
Whatsapp Image 2025 08 13 At 01 00

Upaya Pengembangan Usaha Komunitas: Proses Berbagi Pengalaman Belajar Inkubasi Bisnis Bersama Passe’reanta

16 Agustus 2025
Whatsapp Image 2025 08 11 At 21 13

Pertengahan Tahun, CTM Perlu Berhenti Sejenak untuk Menatap ke Depan

11 Agustus 2025
Sesi foto bersama di 'Kebun Komunitas' (Agung, CTM 2025)

Langkah Kecil untuk Perubahan: Dari Hasil Laut yang Berkurang hingga Tumbuhnya Inisiatif Bersama

7 Agustus 2025
Cita Tanah Mahardika merupakan organisasi masyarakat sipil berbentuk Perkumpulan dan bersifat non-profit (nirlaba) yang dibentuk dengan kesadaran akan pentingnya membangun suatu gerakan sosial yang dipadu dengan; riset, pengorganisasian, dan pendidikan kritis untuk mendorong proses transformasi sosial...selengkapnya
  • info@citatanahmahardika.org
  • About Us
  • Mitra dan Jejaring
  • Tim Kami
  • Contact Us
Cita Tanah Mahardika merupakan organisasi masyarakat sipil berbentuk Perkumpulan dan bersifat non-profit (nirlaba) yang dibentuk dengan kesadaran akan pentingnya membangun suatu gerakan sosial yang dipadu dengan; riset, pengorganisasian, dan pendidikan kritis untuk mendorong proses transformasi sosial...selengkapnya
  • info@citatanahmahardika.org
  • About Us
  • Mitra dan Jejaring
  • Tim Kami
  • Contact Us
© 2023 - citatanahmahardika.org. All Rights Reserved.
No Result
View All Result
en English id Indonesian
  • Tentang Kami
  • Aktivitas Kami
    • Pengembangan Organisasi
    • Kajian
    • Liputan
    • Kampanye
  • Produk Komunitas
  • Publikasi
    • Laporan
    • Artikel
Donasi