Nama saya Nurhani Yunus. Saya lahir dan tumbuh di Kampung Sagea, Halmahera—sebuah wilayah yang hidup berdampingan dengan tambang. Dari ruang itulah saya bergabung dan bertumbuh bersama Sekolah Perempuan Pesisir Halmahera, sebuah organisasi yang membangun lingkar belajar untuk saling memahami dan membicarakan dampak pertambangan, terutama bagi kehidupan perempuan yang tinggal di wilayah lingkar tambang.
Pada 19–22 Agustus 2025, saya berkesempatan mengikuti Training for Transformation (TFT) in Practice Young Leaders[1] atau Pelatihan Transformasi untuk Kaum Muda di Makassar, Sulawesi Selatan. Berbagai alat, modul, dan proses yang saya jalani terasa seperti cahaya yang perlahan menyinari diri saya sendiri. Ia tidak hanya memberi pengetahuan, tetapi juga mengajak saya kembali bertanya dengan jujur: sudah sejauh mana saya benar-benar mengenal diri, dan seberapa siap saya untuk berubah?
Bagian yang paling berkesan menurut saya adalah proses refleksi diri—melalui diskusi mendalam, kerja kelompok, hingga ruang-ruang hening untuk merenung. Proses ini dengan cara yang lembut memaksa saya untuk berhadapan dengan diri sendiri. Saya menyadari bahwa selama ini saya kerap kurang jujur pada diri saya sendiri: tentang ketakutan, keraguan, dan juga harapan-harapan yang saya simpan rapat. Mengakuinya terasa berat, tetapi sekaligus melegakan.
Salah satu alat yang sangat membantu adalah pohon kehidupan. Melalui proses ini, saya diajak menoleh ke belakang—mengingat kembali perjalanan hidup, akar yang membentuk saya, serta harapan yang ingin saya tuju. Lebih dari itu, saya bisa berbagi cerita dengan teman-teman peserta dalam ruang yang aman, tanpa penghakiman.
Saya juga sangat senang dengan cara belajar yang menggunakan metode 3 H (Head, Heart, and Hand)[2]. Kepala mengajak kami berpikir dan memahami persoalan; hati membuka ruang untuk merasakan emosi yang lahir dari pengalaman hidup; sementara tangan mendorong kami untuk bertindak, baik secara individu maupun kolektif dalam memecahkan masalah.
Metode ini membuat saya melihat betapa pentingnya menyelaraskan pikiran, perasaan, dan tindakan dalam kerja-kerja organisasi. Selama ini, saya menyadari kami sering bergerak tanpa benar-benar mendengarkan hati dan kepala kami sendiri.

Metode-metode ini kadang kala terasa tidak nyaman bagi saya. Namun dari situlah saya belajar bahwa transformasi bukanlah perjalanan yang selalu menyenangkan. Ia kerap menuntut keberanian.
Pelatihan ini menyentuh sisi paling manusiawi dalam diri saya. Sesi tentang nilai, kepemimpinan berbasis empati, dan transformasi diri membuka mata saya bahwa menjadi pemimpin muda bukan semata soal kemampuan berbicara lantang atau mengatur orang lain. Kepemimpinan, pada akhirnya bermula dari kemampuan mengelola diri sendiri.
Ada momen ketika saya tersadar bahwa perjalanan ini masih panjang, dan banyak hal dalam diri saya yang perlu saya benahi. Namun itu tidak menjadi alasan saya untuk menutup diri atau menjatuhkan satu sama lain, melainkan menumbuhkan kerendahan hati dan keinginan untuk terus belajar, bertumbuh, dan berubah.
Sementara itu pada sesi yang lain, saya mengingat begitu kuat proses yang membawa kami untuk benar-benar mendengar—melatih telinga, hati, dan kesabaran melalui praktik listening survey[3]. Di sana, saya seperti diajak memperlambat langkah, bersabar pada diri sendiri, sekaligus belajar menerima bahwa membangun komunitas dan menumbuhkan diri menuntut waktu yang lama, juga tidak pernah benar-benar terpisah satu sama lain.
Saat menjalani proses mendengar itu, saya merasakan campuran emosi yang keluar: marah, sedih, takut, juga senang, sekaligus disertai secercah harapan. Seolah saya sedang berjalan di jalan sunyi, namun untuk pertama kalinya saya yakin bahwa arah langkah saya benar. Hal itulah yang membuat saya bergulat dengan pikiran dan perasaan sendiri lalu tumbuh dengan pemahaman yang baru.
Bagi saya, ini bukan sekadar pelatihan, melainkan sebuah proses yang berusaha membongkar cara berpikir lama dan membangun kesadaran baru tentang diri, orang lain, dan realitas sosial di sekitar saya. Pelatihan ini membantu saya memahami bahwa perubahan tidak selalu berangkat dari struktur besar atau kebijakan formal, tetapi sering kali dimulai dari hal yang paling mendasar: cara kita memandang masalah, cara kita mendengar orang lain, dan mengartikan peran diri sendiri dalam komunitas.
Perjalanan Perubahan Saya Hingga ke Komunitas
Sepulang dari pelatihan, saya tidak ingin pengalaman ini berhenti sebagai sekadar catatan atau kenangan kegiatan semata. Saya memilih membawanya masuk ke kehidupan sehari-hari—ke dalam diri saya, ke ruang organisasi, dan ke lingkar komunitas tempat saya bertumbuh bersama.
Dalam kehidupan pribadi, metode yang sering saya terapkan adalah refleksi diri, kesadaran nilai, dan pengelolaan emosi. Saya mulai belajar untuk betul-betul memahami situasi sebelum bertindak, memberi ruang untuk bertanya pada diri sendiri: nilai apa yang ingin saya jaga misalnya dalam mengambil suatu keputusan? Prosesnya tampak sederhana, tetapi nyatanya tidak mudah. Ada saat-saat saya gagal, kembali terbawa emosi, lalu menyesal. Namun justru dari kegagalan itulah saya belajar untuk lebih jujur, sekaligus memaafkan diri sendiri.
Perubahan yang saya rasakan cukup nyata. Saya menjadi lebih tenang dan tidak terburu-buru ingin diakui. Dulu, saya cenderung hadir dengan keinginan untuk menyampaikan pendapat sendiri—berbicara agar didengar. Setelah mengikuti TFT, saya memulai untuk benar-benar mendengar. Bukan sekadar menangkap kata-kata, tetapi berusaha memahami perasaan, pengalaman, dan latar belakang orang lain. Ini membuat saya lebih sabar, tidak mudah menghakimi.
Saya dibuat menjadi lebih yakin bahwa setiap orang punya ritme prosesnya masing-masing, dan yang terpenting bahwa proses itu tidak harus sama dengan orang lain, tetapi harus lebih baik dari hari kemarin atau sebelumnya. Perasaan yang hadir pun campur aduk: lega karena mulai mengenal diri sendiri, dan haru karena menyadari betapa lama saya mengabaikan suara hati saya sendiri.
Sementara itu di ruang organisasi, kami menemukan pijakan awal untuk memulai perubahan. Saya merasa holon[4] adalah metode perubahan yang paling bagus dan tepat. Sebelumnya, baik secara pribadi maupun sebagai organisasi, kami sering kebingungan menentukan dari mana perubahan harus dimulai. Akibatnya, upaya perubahan kerap berhenti di tengah jalan dan tidak benar-benar terwujud. Di tengah kegamangan itu, ada keyakinan baru dalam diri saya bahwa perubahan sosial itu mungkin, selama kita berani memulainya dari diri sendiri.

Pelan-pelan saya juga turut mempraktikkan kemampuan memfasilitasi diskusi dan mendengar secara aktif. Di beberapa pertemuan, saya mencoba menahan diri untuk tidak mendominasi pembicaraan, dan memberi ruang bagi orang lain untuk bersuara. Dari situ, saya menyaksikan perubahan-perubahan kecil namun tampak sangat berarti.
Itulah yang coba kami rawat di organisasi Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Sagea Kiya. Ruang ini tidak hadir dalam bentuk proyek besar dengan anggaran besar, melainkan tumbuh sebagai ruang-ruang belajar sederhana yang saya inisiasi dan fasilitasi bersama teman-teman. Bentuknya pun beragam: diskusi reflektif, berbagi pengalaman hidup, hingga forum-forum kecil tentang kepemimpinan dan kesadaran sosial. Dalam prosesnya, saya mencoba menerapkan pendekatan TFT—dialog partisipatif, mendengar secara aktif, dan refleksi atas pengalaman hidup masing-masing orang.
Di sisi lain saya mencoba menjadi lebih berani mengangkat isu-isu yang sebelumnya dianggap sensitif: peran pemuda, peran perempuan, hingga keadilan dalam pembagian peran di organisasi. Tidak selalu mudah. Ada kalanya saya dianggap ”terlalu kritis”, bahkan dicap ”sok tahu”.
Tentu saja, tidak semua orang dapat menerima hal-hal baru seketika. Ada yang menolak, menganggap cara ini terlalu “banyak berbicara” dan kurang praktis. Namun secara umum, saya melihat tumbuhnya kesadaran baru: bahwa setiap orang memiliki suara, bahwa masalah bisa dibicarakan tanpa kekerasan, dan bahwa perubahan tidak harus selalu datang dari figur “besar”, melainkan dari relasi-relasi kecil yang dibangun dengan jujur. Secara batin, saya merasakan kelelahan yang berbeda—lelah karena tanggung jawab, tetapi sekaligus puas karena saya tahu kelelahan itu bermakna.
TFT juga mengubah cara saya hadir di tengah komunitas. Sebelumnya, saya percaya bahwa untuk membawa perubahan, seseorang harus memiliki posisi, jabatan, atau kekuasaan tertentu. Akhirnya, hal tersebut membawa saya bekerja bersama komunitas dengan pola yang reaktif. Kami bergerak ketika masalah muncul, menyelesaikannya di permukaan, lalu melangkah tanpa sempat merefleksikan akar persoalan. Namun melalui proses ini, saya menyadari bahwa kehadiran yang sadar, sikap reflektif, dan kemampuan membangun dialog justru jauh lebih menentukan. Dari situlah, bagi saya, transformasi mulai menemukan maknanya.
Pada saat yang bersamaan, perlahan saya mulai memahami bahwa persoalan komunitas tidak pernah berdiri sendiri. Ia saling terhubung dengan kondisi ekonomi, budaya, relasi kuasa, dan cara berpikir masyarakat. Konflik kecil, sikap apatis anak muda, atau rendahnya partisipasi ternyata bukan semata soal “malas” atau “tidak peduli”, melainkan buah dari pengalaman panjang: tidak didengar, tidak dilibatkan, dan tidak merasa memiliki ruang.
Namun, saya sadar bahwa saya bukanlah “penyelamat” bagi komunitas. Saya hanyalah bagian kecil dari sebuah perjalanan yang panjang. Dari sanalah, saya bersikap rendah hati, mengakui keterbatasan, dan terus belajar dari pengalaman bersama. Perubahan pada akhirnya tidak selalu berarti keberhasilan. Kadang ia hadir dalam bentuk kegagalan, kekecewaan, lalu refleksi—dan justru dari sanalah pembelajaran yang paling terbuka bermula; untuk berhenti sejenak dan kemudian bertindak dengan kesadaran.
Menerapkan semua ini tidak membuat saya merasa selesai atau sempurna. Justru sebaliknya, saya semakin sadar betapa luasnya ruang belajar yang terbentang di hadapan saya. Saya tidak lagi berlari mengejar peran, melainkan perlahan menumbuhkan nilai yang ingin saya hidupi.
Perubahan Memang Tidak Selalu Mudah
Dalam upaya menerapkan pembelajaran TFT ke dalam kehidupan pribadi, organisasi, dan komunitas, saya menghadapi berbagai tantangan. Tantangan itu tidak hanya datang dari luar, tetapi justru paling sering datang dari dalam diri saya.
Tantangan pertama adalah berhadapan dengan kebiasaan lama. Saya terbiasa ingin segera menyelesaikan masalah, cepat menawarkan solusi, dan ingin dianggap sebagai orang yang berkontribusi. Kini saya lebih banyak mendengar dan merefleksikan, tetapi dalam praktiknya itu tidak mudah. Ada kegelisahan saat harus diam, ada ketakutan dianggap pasif, dan ada dorongan ego untuk tetap tampil sebagai orang yang paling tahu.
Selain itu, tidak semua orang siap dengan pendekatan dialogis dan partisipatif. Sebagian menganggap cara ini terlalu lambat, terlalu idealis, bahkan tidak praktis. Ada yang lebih nyaman dengan pola lama yang hierarkis dan instruktif. Dalam situasi seperti itu, saya sering merasa lelah, kecewa, dan sempat meragukan diri sendiri: apakah pendekatan ini benar-benar relevan dengan konteks yang saya hadapi?
Tantangan lainnya berkaitan dengan emosi pribadi. Ada momen ketika saya merasa tidak dihargai, merasa suara saya tidak didengar, atau merasa sendirian membawa cara berpikir baru. Di titik-titik itulah saya belajar bahwa TFT bukan semata soal metode kerja, melainkan juga tentang mengelola luka batin, ego, dan ekspektasi.
Saya harus jujur mengakui bahwa saya pun bisa marah dan ingin menyerah. Namun justru di sanalah makna terdalamnya bagi saya. Saya memahami bahwa, lagi dan lagi perubahan bukanlah proses yang nyaman. Ia dipenuhi ketidaksabaran, konflik batin, dan ketakutan akan kegagalan. Saya juga menyadari bahwa saya tidak bisa memaksakan perubahan pada orang lain, karena setiap orang punya ritme dan kesiapan sendiri.
Untuk mengatasi hal tersebut, saya mencoba untuk berdamai dengan diri sendiri. Saya mulai menyadari bahwa perubahan tidak harus berlangsung cepat. Saya berhenti menuntut diri untuk selalu kuat, selalu sabar, dan selalu benar. Ketika rasa marah, kecewa, atau lelah muncul, saya belajar mengakuinya dengan jujur, bukan menekannya. Dari sana, saya mulai merefleksikan: bagian mana dari diri saya yang terluka, dan mengapa saya bereaksi seperti itu. Inilah yang perlahan menumbuhkan pemahaman, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Langkah berikutnya yang saya tempuh terus melatih diri untuk mendengar dan berefleksi. Saya membiasakan menulis catatan kecil setiap kali selesai rapat atau kegiatan: apa yang saya rasakan, bagian mana yang berjalan baik, dan apa yang masih perlu diperbaiki. Praktik yang tampak sederhana ini perlahan membantu saya memahami bahwa kegagalan bukanlah titik akhir, melainkan bahan untuk belajar dan bertumbuh.
Saya juga meyakini bahwa saya tidak harus menjalani proses ini sendirian. Dengan demikian, saya mulai membuka diri kepada teman-teman yang memiliki semangat serupa, berbagi kegelisahan, dan saling menguatkan. Dari percakapan-percakapan jujur itu, saya merasakan kelegaan—sebuah kesadaran bahwa saya tidak sendiri. Perasaan itu memberi energi baru untuk terus melangkah, meski jalannya tidak selalu mudah.
Dalam menghadapi orang lain yang punya jalan berbeda, saya memilih untuk mengubah strategi, bukan nilai yang saya pegang. Saya tidak lagi memaksakan bahasa yang terlalu ilmiah atau teoritis. Sebaliknya, saya mencoba menyesuaikan pendekatan dengan konteks lokal: menggunakan lebih banyak contoh nyata, bercerita dari pengalaman sehari-hari, dan menghadirkan empati dalam setiap percakapan.
Dan yang paling penting, saya berusaha menjaga niat dan kesadaran. Saya terus mengingat alasan awal mengikuti TFT—bukan untuk terlihat hebat atau merasa paling benar, melainkan untuk menjadi manusia yang lebih peka, lebih adil, dan lebih peduli. Ketika niat itu mulai kabur, saya memilih berhenti sejenak, menoleh ke dalam diri, merefleksikan ulang, lalu melangkah kembali dengan ritme yang lebih pelan, tetapi dengan hati yang lebih terbuka.
Bagi saya, menghadapi tantangan-tantangan di atas bukan tentang menghapus rasa lelah atau kekecewaan. Ia adalah tentang belajar tetap hadir, bertahan, dan setia pada proses di tengah segala ketidaksempurnaan.
[1] Pelatihan ini merujuk pada Lokakarya Pendidikan Kritis untuk Kaum Muda yang dikembangkan di Afrika Selatan oleh Anne Hope dan Sally Timmel.
[2] Metode ini diambil dari Modul Pelatihan TFT Young Leaders.
[3] Sebuah metode riset sederhana untuk menangkap kegelisahan umum yang dialami oleh komunitas melalui praktik mendengar. Metode ini berangkat dari pemikiran dan pendekatan Paulo Freire.
[4] Holon adalah alat untuk melihat lapisan-lapisan yang saling bergantung dari sistem yang besar. Alat ini digunakan untuk melihat manusia sebagai pusat awal transformasi atau perubahan.






