Senin pagi, 20 Juli 2026, sekitar pukul 09.15, kami berkumpul bersama Maria Latumahina dari Seventhythree Foundation. Pertemuan itu menjadi sepetak langkah persiapan proses refleksi yang akan berjalan bersama komunitas perempuan Passe’reanta di Pulau Satangnga dan Sikatutui di Pulau Bauluang. Agenda yang disusun sama sekali tak membicarakan persiapan teknis. Bak sebuah kejutan yang telah disiapkan secara diam-diam, kami mula-mula justru diajak memaknai ruang untuk mengenali diri sendiri lebih dulu.
Suasana pagi mendadak terasa lebih intim. Sarapan baru saja usai. Sisa-sisa uap kopi masih mengepul di cangkir kopi kami masing-masing. Hangatnya juga tetap tinggal menemani percakapan yang mulai mengalir perlahan. Maria membuka pertemuan dengan menjelaskan rangkaian kegiatan yang akan berlangsung sejak pagi hingga sore menjelang. Ia menguraikan setiap tahapan beserta alasan mengapa proses itu perlu dijalani. Setelah pengantar selesai, Maria mengajukan dua pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi jauh mengajak kami memeriksa diri sendiri lebih dalam. “Bagaimana perasaan dan keadaan teman-teman hari ini?” Lalu disusul dengan, “Apa yang teman-teman pikirkan tentang diri sendiri saat bangun, ketika bercermin, dan menjalani hari ini?” ucapnya. Seperti sebuah alarm pada pagi buta, pertanyaan itu tiba-tiba membuat kami harus terbangun seketika dari sisa-sisa rasa kantuk.
Kami kemudian dibagi ke dalam kelompok kecil yang terdiri atas dua orang. Meski berpasangan, kami tidak diminta berdiskusi. Sebelum berpencar ke tempat masing-masing, Maria memberi satu arahan yang cukup berbeda dari pertemuan-pertemuan pada umumnya. Kedua pertanyaan tadi tidak dijawab dengan percakapan ataupun tulisan, melainkan melalui gambar. Selama proses berlangsung, kami diminta tetap hening dan membiarkan tangan yang bekerja lebih banyak mengikuti apa yang sedang dirasakan oleh diri kami masing-masing.
Di atas selembar kertas yang dibagi menjadi dua bagian, sambil ditemani mentari pagi dan keheningan, setiap orang menggambar apa pun yang mewakili perasaan mereka.

Maria menyebut latihan ini sebagai bagian dari proses self-scanning, yaitu meluangkan waktu untuk membaca kembali perasaan serta keadaan diri kita sendiri sebelum memasuki ruang belajar bersama. Menurutnya, seseorang lebih mudah hadir secara utuh ketika terlebih dahulu menyadari apa yang sedang ia rasakan.
Setelah semua selesai menggambar, kami kembali merapikan diri dan duduk berhadap-hadapan dengan pasangan masing-masing. Secara bergantian, setiap orang menceritakan makna dari gambar yang banyak mengandung perasaan, pengalaman, kegelisahan, sekaligus harapan-harapan yang sesekali terasa kecil, namun terasa pasti. Beberapa bagian cerita terasa memiliki irisan, sementara bagian lainnya menemukan persimpangan yang berbeda.
Usai berbincang dalam kelompok-kelompok kecil, kami kembali duduk bersama dalam satu ruangan. Kursi-kursi digeser mendekat. Percakapan yang semula terpecah perlahan dihidangkan di atas meja yang sama. Maria membuka sesi dengan suara yang tenang. Ia tidak segera meminta hasil diskusi dipresentasikan, melainkan mengundang semua orang lebih dulu menengok pengalaman yang baru saja mereka lalui. “Bagaimana proses tadi berlangsung? Apa yang teman-teman rasakan? Ada yang ingin berbagi cerita?” tanyanya. Pertanyaan yang menggantung sejenak, memberi ruang bagi siapa pun yang ingin mengambil giliran.
Beberapa pegiat lalu menceritakan hasil diskusinya. Percakapan lalu dilanjutkan oleh Abrisal. Ia mengawali ceritanya dengan senyum yang sejak tadi tak banyak lepas dari wajahnya. Ia mengaku merasa gembira dapat kembali bertemu dengan Kak Maria, tetapi perasaan itu bukan semata-mata karena perjumpaan tersebut. Ia merasa bahwa selama ini ada yang sedang tumbuh dalam dirinya. Meski begitu, Abrisal tidak menutupi sisi lain dari perjalanan itu, “Tentu tidak selalu mudah; ada proses di mana kita mengalami kegagalan, tantangan, tidak mencapai apa yang kita harapkan,” tuturnya.
Refleksi Abrisal kemudian bergerak melampaui pengalaman pribadi. Ia melihat bahwa perjalanan bertumbuh seseorang tidak pernah disusun oleh satu orang saja. Di balik setiap langkah, selalu ada tangan-tangan lain yang ikut menopang meski tidak selalu terlihat di hadapan mata. Keluarga, teman, dan lingkungan tempat seseorang bertumbuh menjadi bagian yang diam-diam merawat agar langkah itu tetap berdenyut. “Kami menyadari bahwa selain tantangan, pertumbuhan kita dapat berjalan sejauh ini karena adanya dukungan keluarga, lingkungan pertemanan, dan sebagainya,” katanya.
Sesaat setelah setiap kelompok menceritakan gambarnya masing-masing, Maria lalu memberi tanggapan untuk memperkuat segala perasaan yang tumbuh pada setiap orang. Ia merefleksikan bahwa begitulah hidup ini berlangsung; kita tetap harus menjalaninya karena ia tak akan berhenti. Tentu saja selalu ada beban dan dilema yang akan selalu kita hadapi. Dengan demikian, bagi Maria pengetahuan tentang “kita mau jadi apa di hidup ini” menjadi sangat penting agar kita berani mengambil keputusan.
Proses Mengartikan Ulang Makna dari Refleksi, Review, dan Monitoring
Sesi ini dibuka oleh Maria dengan mengangkat tiga kata yang terasa begitu akrab di telinga kami: refleksi, review, dan monitoring. Selama ini ketiganya sering muncul, bahkan kerap diucapkan dalam satu tarikan napas seolah memiliki makna yang sama. Ia mengingatkan bahwa sebelum melangkah lebih jauh bersama komunitas, kami perlu mengenali terlebih dahulu makna dari praktik-praktik yang selama ini kami lakukan dan/atau ingin kami lakukan bersama komunitas.
Dari sana, ia membagi kami ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu melempar dua buah pertanyaan untuk didiskusikan bersama, “Apa yang teman-teman pahami tentang refleksi, review, dan monitoring? Lalu, di mana batas di antara ketiganya?”. Pertanyaan ini lalu menuntun kami untuk menelusuri ragam pengalaman yang pernah kami alami masing-masing secara indvidu, baik di CTM maupun di organisasi lain.
Dalam diskusi kelompok, satu per satu pengalaman tumpah ke permukaan. Setelah itu, ketika seluruh kelompok kembali berkumpul, setiap hasil diskusi dipresentasikan di hadapan forum yang lebih besar. Maria mendengarkan dengan saksama, mencatat kata-kata yang berulang muncul, lalu perlahan mulai mengurai benang kusut yang tampak menyatukan ketiga istilah itu. Ia memulai dari refleksi.

Menurutnya, refleksi menyerupai seseorang yang sedang menatap bayangannya sendiri di depan cermin. Yang dilihat bukan hanya sosok, melainkan juga perasaan, dan cara memaknai pengalaman, Oleh karena itu, refleksi berarti selalu berangkat dari pengalaman nyata seseorang untuk memaknai dirinya sendiri dalam konteks di mana ia berada.
Setelah itu, pembicaraan bergeser pada review. Maria mengucapkan bahwa kata ini menandai sebuah proses “melihat ulang” perjalanan. Ia mengibaratkannya sebagai tindakan menoleh ke belakang untuk mengumpulkan kembali potongan-potongan pengalaman yang tercecer, menyusunnya menjadi satu rangkaian, kemudian membaca apa yang sebenarnya telah terjadi. Setelahnya, barulah seseorang dapat mengenali pola, mengumpulkan apa yang dilihat, lalu menganalisis hal-hal yang terjadi, dan dianggap berharga demi menemukan pelajaran. Waktu dan bentuk review, menurutnya, dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta tujuan yang ingin dicapai.
Terakhir, Maria mengajak kami membedakan monitoring dari dua istilah sebelumnya. Jika refleksi bergerak dari dalam diri dan review mengajak melihat ulang perjalanan, maka monitoring bekerja sebagai proses pemantauan yang lebih teknis dan detail. Ia mengibaratkannya seperti kamera CCTV yang terus mengamati jalannya sebuah proses dari luar. Fokusnya bukan pada bagaimana seseorang memaknai pengalaman, melainkan pada apakah kegiatan berlangsung sesuai rencana, apakah target tercapai, dan bagaimana setiap tahapan dapat dipantau secara lebih rinci. Dengan kata lain, monitoring selalu memiliki “kriteria” tertentu sebagai titik pijaknya. Melalui penjelasan itu, batas di antara ketiga istilah yang sebelumnya terasa kabur perlahan menjadi sedikit lebih terang di hadapan kami.
Kemudian kami mencoba untuk melihat kembali maksud dari ketiga kata tersebut. Percakapan berpindah ke arah yang lebih dalam. Rupanya ketiga kata itu dianggap memiliki kesamaan yang bisa menuntun setiap orang meraba tujuannya yang masih jauh di depan sana demi hidup yang “lebih baik”. Ketiganya juga sama-sama membantu setiap orang untuk berani mengambil keputusan yang lebih tepat dan sadar. Oleh karena itu, ketiga proses ini memang sering kali beririsan. Hanya saja, kami juga turut melihat sisi yang berbeda.
Amel lalu membuka sisi lain dari pembahasan itu. Ia mengingat kembali pengalamannya ketika mengerjakan sebuah program di Bulukumba. Baginya, monitoring sering kali terasa seperti “ruang pengadilan” di mana segalanya selalu dilihat dari standar penilaian yang sudah ada, kerap kali dalam prosesnya tak pernah ada ruang aman dan nyaman untuk membela diri, bahkan sekadar mengucapkan perasaan terdalam yang menyebabkan satu kegiatan gagal atau berhasil.
Maria lalu menanggapi tanpa tergesa-gesa. Ia mengangguk pelan sebelum berkata bahwa monitoring memang lazim disusun tanpa memberi ruang pada perasaan, padahal yang sedang dipantau bukan sekadar rangkaian kegiatan, melainkan manusia yang menjalankannya. Ia melanjutkan, seharusnya monitoring mampu menghadirkan ruang yang lebih manusiawi, bahkan harus partisipatif. Terutama jika hal itu berkaitan dengan komunitas. Baginya, langkah partisipatif lebih bisa membuat komunitas merasa dilibatkan secara utuh untuk menyusun kriteria penilaiannya sendiri.
Selanjutnya, Deni juga berbagi pandangan tentang hal yang dirasa berbeda dari ketiga kata tersebut. Ia melihat refleksi sebagai sesuatu yang tidak bisa dilakukan hanya sekali lalu selesai. Refleksi semestinya menjadi dasar dari setiap proses review maupun monitoring. Sebab refleksi berguna untuk membawa masing-masing orang kembali melihat dirinya, sekaligus menumbuhkan nilai-nilai baru yang dirasa tidak lagi relevan selama ini.
Di tengah-tengah diskusi yang sedikit serius, Maria kembali mengajukan satu pertanyaan, “Mengapa refleksi menjadi penting?”. Tidak ada yang langsung memberi jawaban . Suasana pertemuan mendadak hening seketika. Beberapa orang menundukkan kepala, sebagian lain menatap kosong ke depan, seolah sedang menelusuri ulang masa lalu dan merenunginya.
Setelah waktu bergerak sedikit melambat dalam keheningan, Yoyo kemudian menjadi salah satu yang pertama meletakkan suaranya. “Refleksi penting karena tidak pernah mengabaikan perasaan sebagai pengalaman nyata,” Rizal menyambut ucapan itu dengan mengingat kembali pemikiran Paulo Freire dalam modul Training for Transformation (TFT) in Practice. Baginya, refleksi membuka ruang untuk membicarakan perasaan. Sebagaimana yang pernah dikatakan Freire;
“Perasaan adalah fakta. Hanya dengan memulai dari isu-isu yang kuat di mana masyarakat memiliki perasaan (harapan, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan, kegembiraan, kesedihan) kita akan dapat menerobos rasa apatis dan ketidakberdayaan yang mematikan dan melumpuhkan orang miskin di banyak tempat.” (Dikutip dari Modul I Pelatihan untuk Perubahan: Buku Pegangan untuk Pekerja Komunitas yang disusun oleh Anne Hope dan Sally Timmel).
Jawaban-jawaban kami rupanya tak berhenti sampai di situ, Maria kembali memberi kami pertanyaan lanjutan, “Kenapa perasaan adalah fakta?”. Ruangan kembali tenggelam dalam diam, kali ini sedikit lebih lama. Kami saling memandang satu sama lain lalu silih berganti mengucapkan jawab-jawaban yang kami yakini.
Sedikit demi sedikit, kami mulai menemukan sebuah pemahaman baru. Rupanya refleksi menjadi penting karena di dalamnya kita dapat melihat dan memahami situasi perasaan dari sisi terdalam yang dialami oleh manusia. Sementara perasaan menjadi fakta karena selayaknya manusia, ia tidak akan pernah terlepas dari emosi dari dalam dirinya. Justru perasaan hadir dan bisa memengaruhi cara seseorang memandang dunia, menentukan sikap, bahkan mengarahkan tindakan yang paling mungkin diambil.
Karena itu, perasaan dapat menjadi titik ungkit yang paling manusiawi yang dimiliki manusia. Dari sanalah seseorang dapat mulai “bergerak” untuk mengubah dirinya maupun keadaan di sekitarnya.
Jika dihubungkan dalam praktik pengorganisasian dan pendidikan kritis, Maria menjelaskan bahwa refleksi seharusnya mengajak komunitas melihat dirinya sendiri seperti sedang bercermin. Cermin yang digunakan ialah perasaan dan pengalaman yang mereka miliki sepanjang perjalanan hidupnya demi memahami apa yang sedang dihadapi, lalu menentukan arah yang ingin dituju. Menurut Maria, itulah napas dari organisasi jika ingin terus-menerus tumbuh dan hidup.
“Sebab orang bisa berubah jika terkoneksi dengan perasaannya, di mana akhirnya keberadaannya turut dihargai,”.
Dari kalimat itu kami merenungi, bagaimana mungkin mengajak komunitas melakukan refleksi jika kami sendiri belum benar-benar terbiasa melakukannya? Seperti dalam tuturan Imam, “Jujur saja, dulunya saya belum terbiasa, bahkan menurutnya ia baru sering menggunakan kata refleksi dan mempraktikkan hal ini setelah menekuni proses belajar Training for Transformation (TFT).” Pengakuan itu membuat suasana pertemuan menjadi lebih terbuka dan menyadari bahwa kemampuan memfasilitasi refleksi bersama komunitas lahir dari kesediaan fasilitator untuk terus-menerus merefleksikan dirinya sendiri secara individu maupun organisasi.
Pada akhirnya, pembicaraan mengenai peran fasilitator memperoleh bentuk yang lebih terang. Maria mengingatkan bahwa tugas kami bukan untuk mempertanyakan atau membawa sistem nilai yang harus diterima masyarakat. Peran kami adalah membantu komunitas menemukan kembali nilai-nilai yang mereka yakini, melalui pengalaman hidup mereka sendiri. Ketika seseorang berhasil mengenali nilai tersebut, keputusan untuk berubah tidak lagi datang karena dorongan dari luar, melainkan tumbuh atas kesadaran yang lahir dari dalam (diri, keluarga, dan komunitas).
Dengan cara itulah refleksi menjadi bagian dari praksis yang menghidupi pendekatan TFT, Freire menyebut;
“Dengan menetapkan siklus refleksi yang teratur dan aksi di mana suatu kelompok terus-menerus merayakan keberhasilan mereka dan menganalisis secara kritis penyebab kesalahan dan kegagalan, mereka dapat menjadi semakin mampu secara efektif mengubah kehidupan sehari-hari mereka. Proses aksi dan refleksi ini sebut praksis.”
Pilar-Pilar Penting Dalam Refleksi Bersama Komunitas
Sesi berikutnya kembali mengubah susunan tempat duduk kami. Maria meminta membentuk kelompok-kelompok kecil, dengan membekali dua pertanyaan,”Apa saja pilar penting dalam melakukan refleksi? Dan pertanyaan kunci seperti apa yang perlu diajukan agar refleksi benar-benar terjadi?” Pertanyaan itu membawa kami untuk mengingat-ingat pengalaman ketika memfasilitasi komunitas maupun ketika menjadi partisipan dalam sebuah proses refleksi. Di tengah-tengahnya kami mulai merangkai jawaban.
Hampir semua kelompok melihat bahwa refleksi tidak dapat dimulai tanpa terlebih dahulu mengajak setiap orang memeriksa keadaan perasaannya secara terbuka. Dari sana, percakapan bisa bergerak menuju pengalaman-pengalaman nyata yang dialami komunitas. Kami juga menyadari bahwa refleksi perlu memberi ruang untuk merayakan setiap keberhasilan, sekecil apa pun itu, tanpa menghindari pembicaraan mengenai kegagalan. Justru melalui pengalaman yang tidak berjalan sesuai harapan, komunitas dapat menemukan pelajaran yang paling berharga untuk melangkah ke perjalanan berikutnya.

Setelah itu, Maria kembali memberi kami pertanyaan, “Jika pilar dan pertanyaan kunci itu telah disusun , lalu bagaimana memproses refleksi itu bersama komunitas? Atau apa yang menjadi ciri utama dari refleksi?” Ruangan kian membeku. Beberapa orang saling memandang, sebagian lain tertawa kecil karena merasa jawaban yang sempat diyakini rupanya belum menjadi jawaban yang utuh. Suasana diskusi terasa seperti permainan cerdas cermat yang berlangsung santai. Kami silih berganti menebak, menyusun kalimat, lalu memperbaikinya lagi. Sesekali Maria menggeleng pelan, bahkan tampak sedikit gemas ketika jawaban kami kembali meleset. Namun, justru dari proses yang berputar-putar itulah pembahasan menjadi lebih hidup.
Maria kemudian berhenti cukup lama pada satu hal yang menurutnya tidak boleh terlepas dalam setiap proses refleksi: tujuan. Ia mengatakan bahwa refleksi tidak dapat berjalan tanpa mengetahui ke mana proses itu hendak dibawa. Penjelasan tersebut muncul setelah ia mendengar kegelisahan yang sebelumnya disampaikan Amel. Amel khawatir jika ruang refleksi perlahan berubah menjadi ruang evaluasi, tempat komunitas merasa sedang dinilai atas apa yang telah mereka lakukan. Kekhawatiran itu tidak dibantah Maria, tetapi justru dijadikan pintu masuk untuk membedakan keduanya.
Menurut Maria, dengan demikian, refleksi berbeda dengan interview yang biasanya dipenuhi dengan daftar pertanyaan kaku dan mekanis. Sebaliknya refleksi hadir dengan pertanyaan yang membuka kesempatan kepada komunitas untuk bercermin pada dirinya sendiri di mana mereka dapat merasa berdaya dan merasakan kembali apa yang sedang mereka alami. Dalam bahasa Maria, refleksi perlu membantu seseorang “merasa baik dan cukup pada dirinya” sebelum mengajak komunitas memasuki bagian-bagian yang lebih sulit.
Karena itu, yang pertama-tama perlu dibangun ialah suasana yang membuat setiap orang merasa aman untuk “bercerita (stories)”. Ia lalu mengucapkan satu kalimat yang mengendap sepanjang sesi berlangsung.
“Biarkan komunitas menceritakan kisah mereka sendiri. Tentang kebanggaan, kekhawatiran, kebahagiaan, atau apa pun yang sedang mereka rasakan.”
Kalimat itu seolah menggeser cara kami memandang refleksi. Artinya, refleksi menjadi ruang untuk bercerita bagi komunitas semengalir mungkin yang lahir dari pengalaman hidupnya. Oleh sebab itu, refleksi selalu bertumpu pada tuturan, sebab melalui bercerita orang membuka lapisan-lapisan pengalaman yang sebelumnya tertutup.
Bagi Maria, cerita selalu memiliki kekuatan yang jauh melampaui isi kalimat yang diucapkan. Ketika seseorang mulai bercerita, bukan hanya peristiwanya yang hadir, tetapi juga perasaan yang menyertainya. Hal itu akan dengan mudah kita kenali dari gaya bertutur seseorang, kalimat-kalimat yang diucapkan, atau bahkan dari gestur dan ekspresinya. Di sanalah pengalaman justru menjadi lebih utuh untuk dipahami melalui kepekaan.
Karena itu, fasilitator perlu membekali diri dengan kemampuan “mendengarkan (listening)”. Mendengarkan, dalam pengertiannya, bukan sekadar memberi kesempatan kepada orang lain untuk berbicara hingga selesai. Tetapi hadir sepenuhnya di hadapan cerita komunitas. Dari cara mendengarkan seperti itulah refleksi perlahan menjadi tempat komunitas merasa didengar, dihargai, dan memiliki keberanian untuk terus membuka pengalaman-pengalaman yang selama ini mungkin hanya mereka simpan sendiri.
Proses pada hari itu berlangsung cukup panjang seharian penuh sejak pagi hingga matahari terbenam. Kami lalu menutup diskusi itu sebagai akhir dari pertemuan dengan refleksi masing-masing orang yang diiringi perasaan senang dan bahagia karena banyak menemukan pengetahuan baru. Seperti sedang bercermin, kami melihat wajah yang begitu jelas bahwa refleksi seharusnya dilakukan sedekat nadi dalam ruang-ruang di mana kita bertumbuh dan belajar.






