Cita Tanah Mahardika
  • Tentang Kami
  • Aktivitas Kami
    • Pengembangan Organisasi
    • Kajian
    • Liputan
    • Kampanye
  • Produk Komunitas
  • Publikasi
    • Laporan
    • Artikel
Donasi
en English id Indonesian
No Result
View All Result
Cita Tanah Mahardika
  • Tentang Kami
  • Aktivitas Kami
    • Pengembangan Organisasi
    • Kajian
    • Liputan
    • Kampanye
  • Produk Komunitas
  • Publikasi
    • Laporan
    • Artikel
Donasi
en English id Indonesian
No Result
View All Result
Cita Tanah Mahardika
  • Pengembangan Organisasi

Pengalaman Memaknai Perubahan: Catatan Reflektif dari Proses “Pelatihan Untuk Transformasi”

  • Penulis:
  • Deni
  • -  29 September 2026
Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 15

Proses lokakarya Treaning for Transformation (TfT) yang dilakukan bersama organisasi Passerean'ta dan difasilitasi oleh pegiat Cita Tanah Mahardika. Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Dibaca Normal 7 menit
A A
Print Friendly, PDF & Email

“Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang bertujuan untuk mengembalikan kemanusiaan manusia yang terampas.” — Paulo Freire

Kalimat di ataslah yang mendorong saya menulis catatan kecil ini. Bagi sebagian orang, kata-kata Freire mungkin terdengar seperti teori akademis yang berat. Namun bagi saya, kutipan itu adalah cermin. Ia terus-menerus mengusik dan mempertanyakan kembali arti dari kata “belajar” yang selama ini sering kali terjebak dalam dinding-dinding kelas yang kaku dan instruksi satu arah.

Setiap kali membaca ulang kalimat itu, ingatan tentang kunjungan saya ke kampung, selalu mendorong untuk menceritakan proses yang saya lalui dan salah satunya proses pertemuan TFT (Training for Transformation). Sebagai fasilitator yang sangat baru dengan metode dan pendekatan pendidikan kritis freire, saya merasa pelatihan untuk perubahan transformasi (TFT) ini adalah pengalaman berharga yang  saya miliki. Terlebih proses ini dilakukan Bersama organisasi di kampung.

Cerita tentang kehidupan harian orang-orang pulau terutama para pegiat organisasi Passereanta selalu menjadi bahan yang hangat untuk dibagi dan diolah menjadi tema-tema pembelajaran bersama. Di sanalah saya sadar bahwa belajar bukanlah tentang mengisi wadah yang kosong, melainkan tentang saling memanusiakan. Saya merasa mereka bukan sekadar objek yang perlu “diberi ilmu”, melainkan guru-guru kehidupan yang menyimpan keajaiban, daya tahan, dan nasihat-nasihat hidup. Sampai dengan catatan ini hadir akibat dari kesan-kesan yang kutangkap bersama mereka.

Bagi saya pengalaman ini tidak sekadar perjalanan melintasi ruang dan tempat, apa yang saya catat di sini adalah sebuah proses belajar. Sebuah proses yang membawa saya dan anggota organisasi Passereanta’ untuk saling berbagi pengetahuan dan refleksi dalam memahami model perubahan yang berangkat dari kekuatan yang ada di dalam diri dan komunitas kita sendiri.

Perjalanan belajar ini tidak terjadi dalam satu malam, melainkan melalui beberapa rangkaian tema belajar. Salah satu topik utama yang menjadi titik awal kami adalah ruang untuk merenungkan dan mengartikan ulang makna perubahan yang transformatif.[1]

Sebagaimana pertemuan-pertemuan komunitas pada umumnya, suasana diawali dengan begitu santai, ramah, dan penuh dengan keakraban. Kami tidak langsung terburu-buru masuk ke dalam bahasan materi, melainkan membukanya lewat nyanyian, diselingi permainan-permainan sederhana yang seketika memecah kebekuan dan memancing gelak tawa. Di sela-sela itu, kami saling bertukar kabar—menanyakan kondisi diri, kabar keluarga di rumah, hingga saling berbagi cerita ringan tentang aktivitas keseharian di pulau. Momen-momen pembuka yang tampak sederhana ini justru menjadi jembatan yang sangat santai; ia meluluhkan rasa canggung, memperpendek jarak di antara kami, serta menghadirkan ruang belajar yang aman dan terbuka, di mana setiap partisipan merasa nyaman, dihargai, dan percaya diri untuk membagikan isi kepala (ide) dan hati (perasaan) mereka.

Lalu, kami melangkah ke dalam ruang diskusi yang lebih mendalam. Kali ini, fokus kami adalah menggali bersama sebuah pemahaman yang paling mendasar tentang makna sebuah “perubahan.” Untuk membuka ruang refleksi, kami memulai dengan satu pertanyaan kunci: “apa itu perubahan?”

Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 05
Deni (fasilitator) sedang menampilkan dua gambar mengenai perubahan dalam bentuk biasa dan yang “transformatif”. Melalui gambar itu, proses lokakarya bersama anggota Passerean’ta berjalan dengan penuh reflektif. Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Ruangan sempat hening sejenak, membiarkan pertanyaan itu mengendap di benak setiap orang. Untuk membantu mengalirkan gagasan dan merangsang imajinasi, kami kemudian melihat sebuah gambar. Gambar itu sederhana: ilustrasi proses metamorfosis, perjalanan panjang seekor ulat yang perlahan bertransformasi menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Melalui gambar itu, proses dimulai dengan berbagi macam ide dan imajinasi dari anggota organisasi perempuan Pasereanta.

Belajar dari Perjuangan Kupu-Kupu

Mata partisipan yang hadir tertuju pada gambar tersebut. Perlahan, satu per satu dari mereka mulai bersuara dan menyampaikan pendapatnya. Suasana diskusi pun mencair dan mengalirkan gagasan-gagasan yang seakan mencerminkan kenyataan hidup yang ada di lingkungan mereka. Dari hasil refleksi bersama, mereka melihat bahwa apa yang dialami oleh kupu-kupu adalah wujud nyata dari sebuah perubahan yang sejati.

“Seperti kita (diri) yang ingin terbang seperti kupu-kupu rasanya sulit, karena harus menjadi kepompong, karena apa yang kita lakukan pasti ada kegagalan namun kita harus terbang” ungkap Dg lele.

Proses itu tidak terjadi secara instan; butuh waktu yang cukup lama dan tahap demi tahap yang harus dilalui dengan sabar. Namun, ketika proses itu selesai, bentuk akhirnya sangatlah berbeda dibandingkan dengan wujud awalnya. Ulat yang dulunya merayap di tanah dan dinilai menggelikan, kini memiliki sayap dan mampu terbang ke udara.

Diskusi ini tidak berhenti hanya pada perubahan wujud fisik. Kami menyelami lebih dalam lagi proses sulit yang harus dialami oleh ulat tersebut. Partisipan menyadari bahwa di balik keindahan seekor kupu-kupu, ada masa-masa di mana ulat mengalami rasa sakit dan kesulitan yang luar biasa saat mengurung diri dalam kepompong. Namun, ada satu pelajaran berharga yang di temukan bersama: keinginan kuat sang ulat untuk berubah ternyata jauh lebih besar daripada rasa sakit yang harus ia tanggung.

Selain gambar metamorfosis, mereka juga melihat ilustrasi kedua untuk memperdalam pemahaman; sebuah gambar potongan kayu gelondongan yang diolah hingga berubah menjadi sebuah kursi. Dari gambar tersebut, semua sepakat bahwa kayu itu memang mengalami perubahan—baik dari segi bentuk, wujud, maupun fungsinya. Namun, jika memperhatikan prosesnya lebih dekat, ada perbedaan yang sangat mendasar pada bagaimana perubahan itu terjadi.

Perubahan pada kayu sepenuhnya datang dan dikendalikan dari luar. Kayu itu bersifat pasif; ia tidak pernah memilih, bercita-cita, atau memiliki kehendak untuk menjadi sebuah kursi. Adalah sang tukang kayu yang datang membawa gergaji, pahat, dan palu untuk memotong, membentuk, serta merangkai kayu tersebut sesuai dengan keinginannya. Tanpa adanya dorongan, paksaan, dan gubahan dari tangan luar, kayu itu akan tetap diam menjadi sepotong kayu biasa.

Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 02
Fasilitator mengajak partisipan melihat teori perubahan “transformatif” (holon) dengan bentuk gambar sederhana berupa lingkaran yang berlapis-lapis. Konsep perubahan ini melihat jika perubahan transformatif kerap berangkat dari lapisan terdalam hingga ke lapisan paling luas (individu, keluarga, kampung/komunitas, negara, hingga alam dan dunia yang lebih luas). Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Hal ini terasa sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu yang di bahas sebelumnya. Ulat tidak membutuhkan tangan dari luar untuk membentuk sayapnya. Perubahannya bergerak dari dalam—didorong oleh daya hidup, kesadaran, serta tekad yang kuat di dalam diri si ulat itu sendiri untuk berjuang melampaui rasa sakit dalam kepompong. Hingga akhirnya mampu terbang dengan bebas.

Partisipan pun bersepakat bahwa perubahan yang transformatif itu tidak sekadar berganti wujud. Perubahan ulat menjadi kupu-kupu mengubah segalanya secara menyeluruh—mulai dari pergerakannya, pola hidupnya, makanan yang dikonsumsinya (yang semula daun hijau menjadi sari bunga), hingga lingkaran pertemanannya di alam bebas. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang mencakup seluruh aspek kehidupan; bentuk, pola, perilaku, hingga lingkungan interaksinya serta dorongan kuat dari dalam diri untuk memilih, bercita-cita, dan berkehendak melakukan perubahan.

Mengurai Kebutuhan Perubahan dalam Kehidupan Kita

Setelah meresapi makna metamorfosis tersebut, kami melanjutkan proses diskusi dengan membagi peserta ke dalam kelompok-kelompok kecil. Pertanyaan berikutnya yang harus di diskusikan bersama adalah: “Apakah kita (diri), sebagai manusia dan bagian dari masyarakat, membutuhkan perubahan itu?”

Setiap kelompok berdiskusi dengan antusias, membedah kebutuhan akan perubahan dalam tiga tingkatan kehidupan. Pada tingkat diri sendiri, mereka menyadari betapa pentingnya diri ini mendapatkan perubahan. Mereka tidak ingin stagnan. Diri ini butuh berkembang melalui pemikiran baru, penambahan pengetahuan, serta memperbanyak pengalaman hidup. Tanpa adanya niat untuk berubah, potensi diri akan terkurung seperti ulat yang tak pernah mau menjadi kepompong

Namun perubahan pada diri sendiri saja tidaklah cukup. Seperti dalam refleksinya dg Sugi; kita tidak bisa melawan 10 orang dengan diri sendiri, tapi ketika bersama hal itu bisa dilakukan. Apa yang disampaikan oleh Dg Sugi itu menggambarkan bahwa persoalan besar hanya bisa dihadapi dengan mudah kalau dilakukan secara bersama. Sehingga diri sendiri dan orang lain adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Merubah diri sendiri adalah upaya panjang untuk perubahan yang lebih luas. Meski demikian perubahan dapat dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. “Sebenarnya bagus ketika semuanya berubah, tapi kita bisa berangkat dari diri sendiri,” ungkap Dg Lele.

Lalu pertemuan kami melangkah ke lingkup yang lebih dekat yaitu keluarga, perubahan dalam keluarga dimulai dari hal-hal mendasar dalam berkomunikasi. mereka merasa perlu membangun budaya untuk saling mendengarkan dan saling memahami satu sama lain. Ketika keterbukaan ini terbangun, kita tidak hanya bisa mengembangkan kapasitas keluarga, tetapi juga kelompok atau organisasi tempat kita bernaung.

Secara praktis, perubahan dalam keluarga ini ditujukan demi masa depan yang lebih baik; agar anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, serta terwujudnya kemandirian ekonomi—di mana pendapatan keluarga mereka bisa cukup, pengeluaran yang tak perlu dapat ditekan, dan beban utang perlahan-lahan dapat berkurang.

Selanjutnya pertemuan terarah pada ruang hidup bersama, yaitu kampung tempat mereka tinggal. Mereka merasa dipanggil untuk bergerak bersama dalam kelompok demi menjaga kampung dari kerusakan. Seperti dalam refleksi Dg dinging; jika kampung rusak (lingkungan rusak dan hubungan sosial rentan konflik) maka itu akan mempengaruhi diri kita. Perubahan yang komunitas harapkan adalah hadirnya kehidupan bermasyarakat yang dihidupkan oleh semangat kerja sama.

Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 30 01
Partisipan sedang melakukan diskusi kelompok untuk mendalami isu generatif “Hutang” yang menjadi kegelisahan mendasar di kehidupan harian komunitas. Melalui metode Six Steps of Digging Deeper (enam langkah menggali lebih dalam) anggota Passerean’ta mulai membagi pengalaman nyata,  mengidentifikasi akar masalah, dampak, hingga penyusunan rencana tindakan bersama. Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Lebih dari itu, ada kerinduan mendalam untuk membatasi dan menghentikan kerusakan lingkungan di kampungnya. “Kita bisa belajar dari Halmahera (Sagea) yang katanya banyak menjual tanahnya (Ke perusahaan tambang) karena rasa kebersamaannya di hancurkan sehingga kesadaran pada diri sendiri dan kelompoknya tidak tumbuh untuk menjaga kampungnya dari kerusakan  yang disebabkan oleh orang luar” ungkap Dg Sugi. Mereka ingin merawat kekayaan alam yang ada, menjaga kelestarian terumbu karang di laut, melindungi hutan mangrove di pesisir, serta menjaga ekosistem lainnya agar tetap lestari untuk generasi yang akan datang.

Perubahan ini penting untuk melepaskan diri dari belenggu yang selama ini menindas. Menurut freire perubahan ini sering dihalangi oleh rasa takut akan kebebasan. Kebebasan dari apa yang menindas (termasuk kaum tertindas dan kaum yang menindas) yang keduanya menjadi tidak autentik sebagai manusia. Proses perubahan ini akan membawa kita kejalur kemanusiaan yang seutuhnya. Sebab situasi penindasan adalah situasi yang tidak insaniah serta menafikan nilai kemanusiaan.[2]

Seperti dalam keinginan mereka untuk menghentikan kerusakan (lingkungan dan kampung). Sikap ini adalah kerinduan atas suatu sistem yang memanusiakan manusia yang menurut hemat saya keinginan untuk kembali menjalin hubungan persaudaraan dengan alam (lingkungan) dan sesama manusia. Tidaklah seperti situasi kampung mereka saat ini. Praktik pengeboman dan bius ikan yang menyebabkan kerusakan pada laut dan terumbu karang, jeratan hutang, konflik sosial, dan hilangnya nilai-nilai budaya (solidaritas sosial) yang semuanya saling mempengaruhi dalam menciptakan kondisi kerentanan manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Karenanya, kebebasan adalah proses kelahiran kembali—menjadi manusia baru yang tak lagi terbelenggu oleh penindasan, baik sebagai yang tertindas maupun penindas, sekalipun prosesnya amat menyakitkan. Melalui kelahiran kembali inilah, cita-cita untuk membawa umat manusia keluar dari dunia yang menindas menuju dunia yang humanis dapat diwujudkan.[3]

Melalui diskusi dan refleksi ini, saya menyadari bahwa perubahan memang membutuhkan keberanian untuk menghadapi rasa sakit dan tantangan. Sebagaimana ulat yang berjuang menjadi kupu-kupu, perubahan transformatif yang kita cita-citakan –mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga kampung – merupakan perjalanan panjang dan penuh tantangan. Selain itu juga saya menyadari pentingnya aksi konkrit dari sebuah refleksi. Di pengalaman ini, anggota pasereanta tidak hanya memaknai sebuah perubahan tranformatif atau perubahan secara menyeluruh, tetapi melanjutkannya pada tindakan nyata yang paling memungkinkan untuk dikerjakan.

Di tengah semua cerita itu, ada satu hal sederhana yang justru menjadi pegangan paling kuat: perasaan adalah fakta. Kalimat ini terdengar kecil, tapi maknanya besar. Selama ini kita sering dilatih untuk percaya bahwa yang “nyata” hanyalah data, angka, laporan, sementara perasaan dianggap sekadar bumbu, bukan bukti. Tapi ketika duduk bersama anggota Passereanta, mendengar keluh kesah mereka, saya belajar bahwa perasaan resah mereka soal hutang adalah fakta. Lelah mereka menghadapi musim paceklik itu fakta. Ketakutan mereka soal masa depan anak-anak itu fakta. Semua itu sama nyatanya dengan angka di atas kertas, bahkan kadang jauh lebih jujur.

Dan saya pun belajar untuk tidak menyembunyikan perasaanku sendiri. Ketika saya ikut membuka hati di depan komunitas, sesuatu yang tidak terduga terjadi: saya bukan hanya memberi, saya juga menerima. Nasihat-nasihat sederhana, cara pandang akan kehidupan, dan cerita dari mereka mengenai pengalaman menjalani kehidupan di tengah keterbatasan, itu semua menjadi pelajaran yang tak pernah kudapat dari buku mana pun.

Di sinilah saya sadari; memfasilitasi bukan berarti berdiri di luar lingkaran, mengatur jalannya diskusi sambil menjaga jarak aman. Tapi justru hadir secara utuh ke dalam lingkaran itu sendiri, ikut berubah, ikut belajar, ikut dikoreksi kalau perlu. Pada akhirnya, proses dan perjumpaan semacam ini melahirkan kesadaran saya sebagai sosok pembelajar yang selalu menaruh kepercayaan pada inisiatif komunitas di kampung.

Mungkin di situlah letak makna sesungguhnya dari kata “transformasi.” Ia bukan proyek yang kita bawa dari luar dan kita berikan kepada orang lain seperti membagikan bantuan. Ia adalah sesuatu yang tumbuh bersama, dalam dialog, dalam saling mendengar di mana yang memfasilitasi dan yang difasilitasi, pada akhirnya, sama-sama menjadi manusia yang lebih utuh.

 

***

 

[1] Satu rangkaian Pelatihan untuk Tranformasi (TFT) yang diselenggarakan pada juni 2026

[2] Freire, pendidikan kaum tertindas, jakarta, Pusataka LP3ES Indonesia, 2008, hlm. 17

[3] Ibid.

 

 

  • Baca juga tulisan menarik lainnya dari
  • Deni
  • atau artikel terkait
  • Pengembangan Organisasi
  • (citatanahmahardika.org)
Tag #kepulauantanakekeKepulauan TanakekePasse’reantaPendidikan kritisPualofreireTraining for Transformation
Sebelumnya

Buruh Tani Musiman, Sistem Pengupahan dan Kerentanannya

  • Pengembangan Organisasi

Pengalaman Memaknai Perubahan: Catatan Reflektif dari Proses “Pelatihan Untuk Transformasi”

  • Penulis:
  • Deni
  • -  29 September 2026
Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 15

Proses lokakarya Treaning for Transformation (TfT) yang dilakukan bersama organisasi Passerean'ta dan difasilitasi oleh pegiat Cita Tanah Mahardika. Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Dibaca Normal 7 menit
A A

“Pendidikan yang membebaskan adalah pendidikan yang bertujuan untuk mengembalikan kemanusiaan manusia yang terampas.” — Paulo Freire

Kalimat di ataslah yang mendorong saya menulis catatan kecil ini. Bagi sebagian orang, kata-kata Freire mungkin terdengar seperti teori akademis yang berat. Namun bagi saya, kutipan itu adalah cermin. Ia terus-menerus mengusik dan mempertanyakan kembali arti dari kata “belajar” yang selama ini sering kali terjebak dalam dinding-dinding kelas yang kaku dan instruksi satu arah.

Setiap kali membaca ulang kalimat itu, ingatan tentang kunjungan saya ke kampung, selalu mendorong untuk menceritakan proses yang saya lalui dan salah satunya proses pertemuan TFT (Training for Transformation). Sebagai fasilitator yang sangat baru dengan metode dan pendekatan pendidikan kritis freire, saya merasa pelatihan untuk perubahan transformasi (TFT) ini adalah pengalaman berharga yang  saya miliki. Terlebih proses ini dilakukan Bersama organisasi di kampung.

Cerita tentang kehidupan harian orang-orang pulau terutama para pegiat organisasi Passereanta selalu menjadi bahan yang hangat untuk dibagi dan diolah menjadi tema-tema pembelajaran bersama. Di sanalah saya sadar bahwa belajar bukanlah tentang mengisi wadah yang kosong, melainkan tentang saling memanusiakan. Saya merasa mereka bukan sekadar objek yang perlu “diberi ilmu”, melainkan guru-guru kehidupan yang menyimpan keajaiban, daya tahan, dan nasihat-nasihat hidup. Sampai dengan catatan ini hadir akibat dari kesan-kesan yang kutangkap bersama mereka.

Bagi saya pengalaman ini tidak sekadar perjalanan melintasi ruang dan tempat, apa yang saya catat di sini adalah sebuah proses belajar. Sebuah proses yang membawa saya dan anggota organisasi Passereanta’ untuk saling berbagi pengetahuan dan refleksi dalam memahami model perubahan yang berangkat dari kekuatan yang ada di dalam diri dan komunitas kita sendiri.

Perjalanan belajar ini tidak terjadi dalam satu malam, melainkan melalui beberapa rangkaian tema belajar. Salah satu topik utama yang menjadi titik awal kami adalah ruang untuk merenungkan dan mengartikan ulang makna perubahan yang transformatif.[1]

Sebagaimana pertemuan-pertemuan komunitas pada umumnya, suasana diawali dengan begitu santai, ramah, dan penuh dengan keakraban. Kami tidak langsung terburu-buru masuk ke dalam bahasan materi, melainkan membukanya lewat nyanyian, diselingi permainan-permainan sederhana yang seketika memecah kebekuan dan memancing gelak tawa. Di sela-sela itu, kami saling bertukar kabar—menanyakan kondisi diri, kabar keluarga di rumah, hingga saling berbagi cerita ringan tentang aktivitas keseharian di pulau. Momen-momen pembuka yang tampak sederhana ini justru menjadi jembatan yang sangat santai; ia meluluhkan rasa canggung, memperpendek jarak di antara kami, serta menghadirkan ruang belajar yang aman dan terbuka, di mana setiap partisipan merasa nyaman, dihargai, dan percaya diri untuk membagikan isi kepala (ide) dan hati (perasaan) mereka.

Lalu, kami melangkah ke dalam ruang diskusi yang lebih mendalam. Kali ini, fokus kami adalah menggali bersama sebuah pemahaman yang paling mendasar tentang makna sebuah “perubahan.” Untuk membuka ruang refleksi, kami memulai dengan satu pertanyaan kunci: “apa itu perubahan?”

Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 05
Deni (fasilitator) sedang menampilkan dua gambar mengenai perubahan dalam bentuk biasa dan yang “transformatif”. Melalui gambar itu, proses lokakarya bersama anggota Passerean’ta berjalan dengan penuh reflektif. Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Ruangan sempat hening sejenak, membiarkan pertanyaan itu mengendap di benak setiap orang. Untuk membantu mengalirkan gagasan dan merangsang imajinasi, kami kemudian melihat sebuah gambar. Gambar itu sederhana: ilustrasi proses metamorfosis, perjalanan panjang seekor ulat yang perlahan bertransformasi menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Melalui gambar itu, proses dimulai dengan berbagi macam ide dan imajinasi dari anggota organisasi perempuan Pasereanta.

Belajar dari Perjuangan Kupu-Kupu

Mata partisipan yang hadir tertuju pada gambar tersebut. Perlahan, satu per satu dari mereka mulai bersuara dan menyampaikan pendapatnya. Suasana diskusi pun mencair dan mengalirkan gagasan-gagasan yang seakan mencerminkan kenyataan hidup yang ada di lingkungan mereka. Dari hasil refleksi bersama, mereka melihat bahwa apa yang dialami oleh kupu-kupu adalah wujud nyata dari sebuah perubahan yang sejati.

“Seperti kita (diri) yang ingin terbang seperti kupu-kupu rasanya sulit, karena harus menjadi kepompong, karena apa yang kita lakukan pasti ada kegagalan namun kita harus terbang” ungkap Dg lele.

Proses itu tidak terjadi secara instan; butuh waktu yang cukup lama dan tahap demi tahap yang harus dilalui dengan sabar. Namun, ketika proses itu selesai, bentuk akhirnya sangatlah berbeda dibandingkan dengan wujud awalnya. Ulat yang dulunya merayap di tanah dan dinilai menggelikan, kini memiliki sayap dan mampu terbang ke udara.

Diskusi ini tidak berhenti hanya pada perubahan wujud fisik. Kami menyelami lebih dalam lagi proses sulit yang harus dialami oleh ulat tersebut. Partisipan menyadari bahwa di balik keindahan seekor kupu-kupu, ada masa-masa di mana ulat mengalami rasa sakit dan kesulitan yang luar biasa saat mengurung diri dalam kepompong. Namun, ada satu pelajaran berharga yang di temukan bersama: keinginan kuat sang ulat untuk berubah ternyata jauh lebih besar daripada rasa sakit yang harus ia tanggung.

Selain gambar metamorfosis, mereka juga melihat ilustrasi kedua untuk memperdalam pemahaman; sebuah gambar potongan kayu gelondongan yang diolah hingga berubah menjadi sebuah kursi. Dari gambar tersebut, semua sepakat bahwa kayu itu memang mengalami perubahan—baik dari segi bentuk, wujud, maupun fungsinya. Namun, jika memperhatikan prosesnya lebih dekat, ada perbedaan yang sangat mendasar pada bagaimana perubahan itu terjadi.

Perubahan pada kayu sepenuhnya datang dan dikendalikan dari luar. Kayu itu bersifat pasif; ia tidak pernah memilih, bercita-cita, atau memiliki kehendak untuk menjadi sebuah kursi. Adalah sang tukang kayu yang datang membawa gergaji, pahat, dan palu untuk memotong, membentuk, serta merangkai kayu tersebut sesuai dengan keinginannya. Tanpa adanya dorongan, paksaan, dan gubahan dari tangan luar, kayu itu akan tetap diam menjadi sepotong kayu biasa.

Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 02
Fasilitator mengajak partisipan melihat teori perubahan “transformatif” (holon) dengan bentuk gambar sederhana berupa lingkaran yang berlapis-lapis. Konsep perubahan ini melihat jika perubahan transformatif kerap berangkat dari lapisan terdalam hingga ke lapisan paling luas (individu, keluarga, kampung/komunitas, negara, hingga alam dan dunia yang lebih luas). Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Hal ini terasa sangat bertolak belakang jika dibandingkan dengan proses metamorfosis ulat menjadi kupu-kupu yang di bahas sebelumnya. Ulat tidak membutuhkan tangan dari luar untuk membentuk sayapnya. Perubahannya bergerak dari dalam—didorong oleh daya hidup, kesadaran, serta tekad yang kuat di dalam diri si ulat itu sendiri untuk berjuang melampaui rasa sakit dalam kepompong. Hingga akhirnya mampu terbang dengan bebas.

Partisipan pun bersepakat bahwa perubahan yang transformatif itu tidak sekadar berganti wujud. Perubahan ulat menjadi kupu-kupu mengubah segalanya secara menyeluruh—mulai dari pergerakannya, pola hidupnya, makanan yang dikonsumsinya (yang semula daun hijau menjadi sari bunga), hingga lingkaran pertemanannya di alam bebas. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang mencakup seluruh aspek kehidupan; bentuk, pola, perilaku, hingga lingkungan interaksinya serta dorongan kuat dari dalam diri untuk memilih, bercita-cita, dan berkehendak melakukan perubahan.

Mengurai Kebutuhan Perubahan dalam Kehidupan Kita

Setelah meresapi makna metamorfosis tersebut, kami melanjutkan proses diskusi dengan membagi peserta ke dalam kelompok-kelompok kecil. Pertanyaan berikutnya yang harus di diskusikan bersama adalah: “Apakah kita (diri), sebagai manusia dan bagian dari masyarakat, membutuhkan perubahan itu?”

Setiap kelompok berdiskusi dengan antusias, membedah kebutuhan akan perubahan dalam tiga tingkatan kehidupan. Pada tingkat diri sendiri, mereka menyadari betapa pentingnya diri ini mendapatkan perubahan. Mereka tidak ingin stagnan. Diri ini butuh berkembang melalui pemikiran baru, penambahan pengetahuan, serta memperbanyak pengalaman hidup. Tanpa adanya niat untuk berubah, potensi diri akan terkurung seperti ulat yang tak pernah mau menjadi kepompong

Namun perubahan pada diri sendiri saja tidaklah cukup. Seperti dalam refleksinya dg Sugi; kita tidak bisa melawan 10 orang dengan diri sendiri, tapi ketika bersama hal itu bisa dilakukan. Apa yang disampaikan oleh Dg Sugi itu menggambarkan bahwa persoalan besar hanya bisa dihadapi dengan mudah kalau dilakukan secara bersama. Sehingga diri sendiri dan orang lain adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Merubah diri sendiri adalah upaya panjang untuk perubahan yang lebih luas. Meski demikian perubahan dapat dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. “Sebenarnya bagus ketika semuanya berubah, tapi kita bisa berangkat dari diri sendiri,” ungkap Dg Lele.

Lalu pertemuan kami melangkah ke lingkup yang lebih dekat yaitu keluarga, perubahan dalam keluarga dimulai dari hal-hal mendasar dalam berkomunikasi. mereka merasa perlu membangun budaya untuk saling mendengarkan dan saling memahami satu sama lain. Ketika keterbukaan ini terbangun, kita tidak hanya bisa mengembangkan kapasitas keluarga, tetapi juga kelompok atau organisasi tempat kita bernaung.

Secara praktis, perubahan dalam keluarga ini ditujukan demi masa depan yang lebih baik; agar anak-anak mereka dapat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, serta terwujudnya kemandirian ekonomi—di mana pendapatan keluarga mereka bisa cukup, pengeluaran yang tak perlu dapat ditekan, dan beban utang perlahan-lahan dapat berkurang.

Selanjutnya pertemuan terarah pada ruang hidup bersama, yaitu kampung tempat mereka tinggal. Mereka merasa dipanggil untuk bergerak bersama dalam kelompok demi menjaga kampung dari kerusakan. Seperti dalam refleksi Dg dinging; jika kampung rusak (lingkungan rusak dan hubungan sosial rentan konflik) maka itu akan mempengaruhi diri kita. Perubahan yang komunitas harapkan adalah hadirnya kehidupan bermasyarakat yang dihidupkan oleh semangat kerja sama.

Whatsapp Image 2026 06 13 At 13 30 01
Partisipan sedang melakukan diskusi kelompok untuk mendalami isu generatif “Hutang” yang menjadi kegelisahan mendasar di kehidupan harian komunitas. Melalui metode Six Steps of Digging Deeper (enam langkah menggali lebih dalam) anggota Passerean’ta mulai membagi pengalaman nyata,  mengidentifikasi akar masalah, dampak, hingga penyusunan rencana tindakan bersama. Dok. Cita Tanah Mahardika, 2026

Lebih dari itu, ada kerinduan mendalam untuk membatasi dan menghentikan kerusakan lingkungan di kampungnya. “Kita bisa belajar dari Halmahera (Sagea) yang katanya banyak menjual tanahnya (Ke perusahaan tambang) karena rasa kebersamaannya di hancurkan sehingga kesadaran pada diri sendiri dan kelompoknya tidak tumbuh untuk menjaga kampungnya dari kerusakan  yang disebabkan oleh orang luar” ungkap Dg Sugi. Mereka ingin merawat kekayaan alam yang ada, menjaga kelestarian terumbu karang di laut, melindungi hutan mangrove di pesisir, serta menjaga ekosistem lainnya agar tetap lestari untuk generasi yang akan datang.

Perubahan ini penting untuk melepaskan diri dari belenggu yang selama ini menindas. Menurut freire perubahan ini sering dihalangi oleh rasa takut akan kebebasan. Kebebasan dari apa yang menindas (termasuk kaum tertindas dan kaum yang menindas) yang keduanya menjadi tidak autentik sebagai manusia. Proses perubahan ini akan membawa kita kejalur kemanusiaan yang seutuhnya. Sebab situasi penindasan adalah situasi yang tidak insaniah serta menafikan nilai kemanusiaan.[2]

Seperti dalam keinginan mereka untuk menghentikan kerusakan (lingkungan dan kampung). Sikap ini adalah kerinduan atas suatu sistem yang memanusiakan manusia yang menurut hemat saya keinginan untuk kembali menjalin hubungan persaudaraan dengan alam (lingkungan) dan sesama manusia. Tidaklah seperti situasi kampung mereka saat ini. Praktik pengeboman dan bius ikan yang menyebabkan kerusakan pada laut dan terumbu karang, jeratan hutang, konflik sosial, dan hilangnya nilai-nilai budaya (solidaritas sosial) yang semuanya saling mempengaruhi dalam menciptakan kondisi kerentanan manusia untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.

Karenanya, kebebasan adalah proses kelahiran kembali—menjadi manusia baru yang tak lagi terbelenggu oleh penindasan, baik sebagai yang tertindas maupun penindas, sekalipun prosesnya amat menyakitkan. Melalui kelahiran kembali inilah, cita-cita untuk membawa umat manusia keluar dari dunia yang menindas menuju dunia yang humanis dapat diwujudkan.[3]

Melalui diskusi dan refleksi ini, saya menyadari bahwa perubahan memang membutuhkan keberanian untuk menghadapi rasa sakit dan tantangan. Sebagaimana ulat yang berjuang menjadi kupu-kupu, perubahan transformatif yang kita cita-citakan –mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga kampung – merupakan perjalanan panjang dan penuh tantangan. Selain itu juga saya menyadari pentingnya aksi konkrit dari sebuah refleksi. Di pengalaman ini, anggota pasereanta tidak hanya memaknai sebuah perubahan tranformatif atau perubahan secara menyeluruh, tetapi melanjutkannya pada tindakan nyata yang paling memungkinkan untuk dikerjakan.

Di tengah semua cerita itu, ada satu hal sederhana yang justru menjadi pegangan paling kuat: perasaan adalah fakta. Kalimat ini terdengar kecil, tapi maknanya besar. Selama ini kita sering dilatih untuk percaya bahwa yang “nyata” hanyalah data, angka, laporan, sementara perasaan dianggap sekadar bumbu, bukan bukti. Tapi ketika duduk bersama anggota Passereanta, mendengar keluh kesah mereka, saya belajar bahwa perasaan resah mereka soal hutang adalah fakta. Lelah mereka menghadapi musim paceklik itu fakta. Ketakutan mereka soal masa depan anak-anak itu fakta. Semua itu sama nyatanya dengan angka di atas kertas, bahkan kadang jauh lebih jujur.

Dan saya pun belajar untuk tidak menyembunyikan perasaanku sendiri. Ketika saya ikut membuka hati di depan komunitas, sesuatu yang tidak terduga terjadi: saya bukan hanya memberi, saya juga menerima. Nasihat-nasihat sederhana, cara pandang akan kehidupan, dan cerita dari mereka mengenai pengalaman menjalani kehidupan di tengah keterbatasan, itu semua menjadi pelajaran yang tak pernah kudapat dari buku mana pun.

Di sinilah saya sadari; memfasilitasi bukan berarti berdiri di luar lingkaran, mengatur jalannya diskusi sambil menjaga jarak aman. Tapi justru hadir secara utuh ke dalam lingkaran itu sendiri, ikut berubah, ikut belajar, ikut dikoreksi kalau perlu. Pada akhirnya, proses dan perjumpaan semacam ini melahirkan kesadaran saya sebagai sosok pembelajar yang selalu menaruh kepercayaan pada inisiatif komunitas di kampung.

Mungkin di situlah letak makna sesungguhnya dari kata “transformasi.” Ia bukan proyek yang kita bawa dari luar dan kita berikan kepada orang lain seperti membagikan bantuan. Ia adalah sesuatu yang tumbuh bersama, dalam dialog, dalam saling mendengar di mana yang memfasilitasi dan yang difasilitasi, pada akhirnya, sama-sama menjadi manusia yang lebih utuh.

 

***

 

[1] Satu rangkaian Pelatihan untuk Tranformasi (TFT) yang diselenggarakan pada juni 2026

[2] Freire, pendidikan kaum tertindas, jakarta, Pusataka LP3ES Indonesia, 2008, hlm. 17

[3] Ibid.

 

 

  • Baca juga tulisan menarik lainnya dari
  • Deni
  • atau artikel terkait
  • Pengembangan Organisasi
  • (citatanahmahardika.org)
Tag #kepulauantanakekeKepulauan TanakekePasse’reantaPendidikan kritisPualofreireTraining for Transformation
Sebelumnya

Buruh Tani Musiman, Sistem Pengupahan dan Kerentanannya

Terkait Lainnya

Hijau Merah Dan Putih Modern Simpel Hari Tni Banner Lanscape

Buruh Tani Musiman, Sistem Pengupahan dan Kerentanannya

12 September 2026
Whatsapp Image 2026 08 22 At 20 04

Seperti Sedang Bercermin: Catatan Mengenali Arti dari “Refleksi”

22 Agustus 2026
Whatsapp Image 2026 07 27 At 14 21

Dialog Perencanaan Tahunan Komunitas: Sebuah Catatan Hasil Pembelajaran Bersama Organisasi Passe’reanta

28 Juli 2026
Whatsapp Image 2026 07 14 At 13 15

Mengail di Atas Ombak yang Sama: Pertarungan Nelayan Kecil di Antara Penangkapan Ikan Industri yang Rakus (Bagian 2)

14 Juli 2026
Img 20260505 143958 Jpg

Mengail di Atas Ombak yang Sama: Pertarungan Nelayan Kecil di Antara Penangkapan Ikan Industri yang Rakus (Bagian 1)

26 Juni 2026
Whatsapp Image 2026 06 10 At 12 58 14

Dialog Lingkungan: Catatan Pembelajaran Konservasi Laut Berbasis Komunitas

12 Juni 2026
Cita Tanah Mahardika merupakan organisasi masyarakat sipil berbentuk Perkumpulan dan bersifat non-profit (nirlaba) yang dibentuk dengan kesadaran akan pentingnya membangun suatu gerakan sosial yang dipadu dengan; riset, pengorganisasian, dan pendidikan kritis untuk mendorong proses transformasi sosial...selengkapnya
  • info@citatanahmahardika.org
  • About Us
  • Mitra dan Jejaring
  • Tim Kami
  • Contact Us
Cita Tanah Mahardika merupakan organisasi masyarakat sipil berbentuk Perkumpulan dan bersifat non-profit (nirlaba) yang dibentuk dengan kesadaran akan pentingnya membangun suatu gerakan sosial yang dipadu dengan; riset, pengorganisasian, dan pendidikan kritis untuk mendorong proses transformasi sosial...selengkapnya
  • info@citatanahmahardika.org
  • About Us
  • Mitra dan Jejaring
  • Tim Kami
  • Contact Us
© 2023 - citatanahmahardika.org. All Rights Reserved.
No Result
View All Result
en English id Indonesian
  • Tentang Kami
  • Aktivitas Kami
    • Pengembangan Organisasi
    • Kajian
    • Liputan
    • Kampanye
  • Produk Komunitas
  • Publikasi
    • Laporan
    • Artikel
Donasi