Pulau Bauluang merupakan salah satu pulau kecil di Kabupaten Takalar, tempat dimana waktu tidak di ukur dengan jam melainkan dengan irama pasang dan surutnya air laut, hal ini cukup terasa saat mengunjungi pulau tersebut, para warga selalu mengungkapkan “esakmi”. Ungkapan tersebut menunjukkan sebuah waktu bahwa air telah surut dan tidak ada lagi kapal yang bisa keluar dari pulau. Bauluang yang seluas sekitar 60,3 Ha hanyalah salah satu dari banyaknya pulau-pulau kecil di gugusan kepulauan Supermonde Sulawesi Selatan. Terletak sekitar empat belas mill atau sejauh dua puluh dua kilo meter (22 Km) dari kota kabupaten takalar melalui jalur laut. Pulau ini sudah di huni sebelum masa penjajahan belanda di indonesia. Tampakan pulau ini dari udara hanya merupakan titik kecil namun di dalamnya tersimpan kehidupan yang kompleks. Di bauluang tidak ada jalan raya besar, tidak ada gedung-gedung tinggi hanya satu jalan setapak yang membentang mengikuti garis pantai dari timur ke barat[1].
Suara laut senantiasa mengiringi hari-hari kami saat berkunjung ke Bauluang, tetumbuhan pulau seperti kelapa, bakau dan beberapa jenis pohon besar masih tumbuh membersamai dinamika kehidupan pulau. Sementara di pekarangan rumah, ternak-ternak warga akan berkeliaran dengan bebas. Hamparan sawah yang hanya produktif ketika musim penghujan (musim barat) merupakan sumber penghasilan dan penghidupan kedua. Sementara, laut tetap menjadi jantung yang memompa kehidupan bagi seluruh komunitas yang ada di atasnya. Namun pada kesempatan lalu, tepatnya di tahun 2024, cerita tentang laut dan perubahannya terekam dalam ingatan dan menjadi suatu keresahan bersama orang tempatan. “Sessajaki, susah ki dapat hasil/ikan.”[2] Sebuah ungkapan akan kondisi mata pencaharian sebagai nelayan tak lagi menjanjikan.
Dalam kegiatan Pendidikan untuk Perubahan yang dilakukan oleh Cita Tanah Mahardika bersama orang-orang di Pulau Bauluang, keresahan bersama di atas didudukan sebagai tema umum yang dianggap mampu menggerakkan emosi, kesadaran, dan tindakan bagi perubahan. Melalui metode “Enam Langkah Menggali Lebih Dalam (Six Stages of Digging Deeply)”[3], proses pendidikan ini kemudian membawa partisipan pada upaya-upaya reflektif dalam melihat akar masalah hingga menyusun rencana tindakan bersama. Dua diantara rencana tindakannya adalah pengelolaan kebun pekarangan secara organik dan membentuk kembali komunitas dimana orang-orangnya dapat tumbuh bersama.
Perencanaan Tahunan dan Tindakan Kecilnya untuk Sebuah Perubahan
15-17 April 2026, pertemuan dengan komunitas Sikatutui di Pulau Bauluang kembali dilakukan bersama fasilitator kampung Cita Tanah Mahardika. Kali ini, putaran prosesnya akan melihat kembali perencanaan tahunan dan pembelajaran pengelolaan kebun pangan komunitas. Desain dialog reflektif selama tiga hari sudah terbayang oleh tim fasilitator. Namun, dinamika kehidupan kampung selalu punya ceritanya sendiri. Beberapa anggota harus menghadiri acara keluarga di luar kampung, sehingga agenda tersebut bergeser dari jadwal semula (12-14 April) dan itu menjadi salah satu tantangan yang dialami dalam kerja-kerja pengorganisiran.
Tanggal yang disepakati kembali tiba, denyut dialog mulai terasa. Selama tiga hari berturut-turut, rumah Saera dan Marwah bergantian menjadi saksi lahirnya gagasan-gagasan baru. Waktu pelaksanaan pun bergerak dinamis, mengikuti ritme hidup warga kampung, dua Pertemuan siang menjelang sore, memanfaatkan waktu senggang di antara rutinitas harian para pegiat. Satu pertemuannya lagi pada malam hari, agar tidak bertabrakan dengan jadwal pengajian rutin yang diikuti oleh sebagian besar pegiat. Setiap pertemuan berlangsung intens selama kurang lebih tiga jam. Meski beberapa anggota harus datang terlambat atau pamit lebih awal karena urusan domestik yang mendesak, antusiasme tidak luntur. Hampir seluruh anggota Sikatutui meluangkan waktu untuk hadir.
Pertemuan hari itu dibuka dengan sebuah perumpamaan secara visual oleh Ical, fasilitator dari CTM. Di hadapan para pegiat Sikatutui, ia membentangkan dua gambar kapal; satu di atas laut yang tenang, dan satu lagi bertarung dengan ombak besar.
Beberapa pegiat merefleksikan ketakutan dan kekhawatiran ketika mereka berhadapan dengan ombak besar. Namun, hal lain yang dapat direfleksikan oleh salah satu pegiat Sikatutui adalah “Biar ombak besar atau tenang, tetap jaki menyeberang. Tetap jaki karena itu sudah seringkali dialami oleh orang Pulau,” ucap Saerah, dengan dialek khas Makassarnya. Kapal itu adalah organisasi mereka “Sikatutui”, dimana penumpangnya adalah para pegiat, laut tenang adalah pencapaian, dan ombak besar adalah tantangan yang tak terelakkan, lanjutnya.

Dalam tiga bulan terakhir, ombak itu nyata adanya dalam mengurus rencana organisasi. Mulai dari rasa saling berharap (kurangnya inisiatif) antar anggota, sumber air yang jauh untuk menyiram kebun, hingga kualitas keripik kerang yang masih naik-turun. Namun, di balik ombak itu, ada “laut tenang” yang membanggakan: hasil kebun seperti lombok dan paria/pare sudah bisa dijual ke tetangga, dan produksi VCO (minyak kelapa murni) telah berjalan dua kali. “Biar ombak besar, tetap jaki menyeberang,” ucapnya mantap. Kalimat itu bukan sekadar soal pelayaran, tapi soal kerasnya hidup. Bagi para pegiat, Sikatutui adalah perahu itu. Di dalamnya, ada ibu-ibu dengan latar belakang berbeda yang mencoba mendayung bersama. Laut tenang yang mereka hadapi menggambarkan ketenangan dalam berorganisasi, namun saat “ombak” datang atau tantangan yang dihadapi dalam berorganisasi seperti saling mengharapkan atau salah paham, mereka belajar untuk tidak saling melepas pegangan dalam situasi tersebut.
Saat pertemuan berlangsung ada momen unik saat mereka berkumpul di rumah Saerah. Mereka mendengarkan sebuah cerita sederhana tentang lima sahabat yang ingin memasak Coto Makassar tapi gagal total karena tidak ada komunikasi antar satu dengan yang lainnya.
Mendengar cerita itu, Lisa, salah satu anggota, terlihat kecewa. Ia seolah ikut merasakan sedihnya jika makanan yang sudah diimpikan ternyata tidak jadi dinikmati. Dari sana, suasana yang tadinya santai berubah menjadi refleksi yang dalam namun sederhana. Marwah menyahut dan mencoba merefleksikannya dalam kerja-kerja Organisasi, “Kalau mau melakukan sesuatu, perluki memang bersemangat dan perluki juga berdiskusi dengan teman-temanta.”

mereka belajar bahwa menjadi pintar sendirian itu tidak ada gunanya. Di Sikatutui, mereka bukan hanya belajar teknik memarut kelapa yang benar, tapi juga belajar cara menurunkan ego. Mereka bukan hanya belajar menanam benih, namun mereka juga belajar bagaimana merawat benih itu hingga menuai hasil. Bagi Sikatutui, belajar bertanya pada teman bukan berarti kita lemah, melainkan cara agar tujuan bersama dalam organisasi dapat dicapai dengan baik. Tidak ada yang salah dalam proses belajar yang kita lakukan ini.
Sikatutui adalah ruang bagi para pegiat untuk melepas penat, berbagi tawa, sekaligus sebagai ruang untuk belajar bersama sehingga mereka merasa takut jika Sikatutui sampai bubar bukan karena soal uang namun mereka akan kehilangan ruang untuk bercerita. Daeng Lebang, dengan kejujuran khas orang pulau, bercerita sambil tertawa, “Kalau sendiri, tidak ada siapapun yang bisa ditemani untuk bercerita. Ceritai i kalenna (bercerita pada diri sendiri).” Para pegiat lainnya juga menambahkan Baji’ki, anggappaki pilajarang (Baik, karena ada pelajaran yang bisa didapatkan). Di komunitas ini, mereka menemukan tempat untuk menumpahkan penat. Saat mereka memindahkan bibit cabai atau sedang melakukan produksi keripik kerang, tangan mereka bekerja, tapi mulut mereka tak berhenti bercerita berbagi pengalaman dan tertawa.
Dengan semangat yang dimiliki untuk berkumpul dan belajar bersama, menjadi api yang terus mendorong mereka merawat dan menjaga kebun pangan yang dikerjakan bersama komunitas. Menyiram tanaman agar tetap tumbuh meski tempat sumber airnya dirasa jauh. Saling mengingatkan dan saling mengunjungi rumah menjadi bumbu yang membuat hubungan mereka terajut kembali seperti keluarga inti. Meskipun untuk saat ini Sikatutui masih memiliki tantangan karena aktivitas personal pegiat cukup padat.

Setelah tiga hari bertemu, berdiskusi, bahkan sampai bermain permainan membalik badan tanpa melepas tangan (ice breaking), kelelahan itu nyata adanya. Daeng Nurung mengakuinya dengan jujur, “Campur aduk. Antara capek dan gembira.” Ada yang mengantuk karena pertemuan berlangsung sampai malam, tapi tidak ada yang beranjak sebelum yel-yel diteriakkan. “Sikatutui, Bisa! Pasti Bisa! Selalu Menyala!”
Suara mereka riuh, menembus dinding rumah, seolah memberi tahu seluruh pulau bahwa para perempuan ini tidak lagi sama. Mereka pulang ke rumah masing-masing dengan satu harapan sederhana yakni ingin organisasi ini tetap “hidup”. Bukan hanya agar dapur terus mengepul, tapi agar mereka tetap punya alasan untuk duduk melingkar, tertawa bersama, dan memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang merasa sendirian dalam menghadapi ombak kehidupan di Pulau Bauluang.
Pada putaran dialog kali ini ada hal yang berbeda, jika biasanya riuh suara kaum bapak-bapak dan pemuda ikut mewarnai diskusi, kali ini atmosfernya murni milik anggota Sikatutui yang di gerakkan oleh kaum perempuan. Bapak-bapak sedang sibuk melaut mencari rezeki. Absennya kaum lelaki pada pertemuan tersebut justru melahirkan berkah tersendiri. Ruang dialog bertransformasi menjadi ruang aman untuk membangun kepercayaan diri perempuan, anggota yang biasanya sungkan, kini perlahan mulai aktif menuangkan isi kepala mereka. Saling silang pandangan mengalir tanpa ada rasa canggung.
Puncaknya terjadi pada hari ketiga. Suasana haru dan tawa pecah saat sesi centering. Dua orang anggota Sikatutui dengan penuh percaya diri maju ke depan, melakonkan sebuah drama pendek sebagai kode awal untuk mendialogkan tantangan pengurusan kebun mereka. Lewat seni peran tersebut, mereka memotret realitas, tantangan, dan harapan komunitas dengan baik.

Kini, tiga hari dialog reflektif itu telah usai. Lembaran-lembaran catatan tentang pembelajaran bersama dan cetak biru rencana tahunan organisasi telah tersusun. Dari ruang-ruang tamu sederhana di pinggir laut, Sikatutui sedang menulis masa depannya sendiri, sebuah masa depan yang mandiri, berdaya, dan digerakkan oleh ketulusan perempuan yang menginginkan perubahan untuk kampungnya[4].
***
[1] Cita Tanah Mahardika, Laporan Study Dasar Krisis Sosial Ekologi Pulau-Pulau Kecil di Kepulauan Tanakeke, h 71
[2] Irwan, Notulensi Catatan Proses Work Shop Sixtep Bauluang Rabu 26 Juni 2024
[3] Six Stages of Digging Deeply merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Anne Hope dan Sally Timmel. Diuraikan lengkap dalam buku berjudul Training For Transformation: A Handbook for Community Workers (1984). Metode ini berakar dari konsep dan model pendidikan kritis Paulo Freire yang bernama Problem-Posing Education atau hadap masalah. chrome-extension://efaidnbmnnnibpcajpcglclefindmkaj/https://s3.us-west-1.wasabisys.com/p-library/books/bce3c2b553aa02411adcedc56256d806.pdf
[4] Abrisal, Laporan Dan Catatan Proses Dialog Perencanaan Tahunan Komunitas Dan Pengelolaan Kebun Pangan Bauluang 15-17 April 2026






