Perjalanan sebuah komunitas tidak pernah berupa garis lurus yang membosankan, melainkan lebih mirip pelayaran di laut lepas yang kadang tenang membuai dan kadang berombak menghantam. Kesadaran kolektif inilah yang mengubah pandangan saya terhadap organisasi di kampung ketika mengikuti Lokakarya Perencanaan Tahunan Komunitas Passe’reanta untuk tahun 2026.
Selama beberapa hari (12-13 April 2026), aktivitas belajar bersama ini dilakukan di rumah pegiat Passe’reanta (Daeng Dinging dan Daeng Lele). Ruangannya memang tidak terlalu renggang namun masih memungkinkan kita dalam belajar dan berbagi pengalaman yang reflektif, baik secara individu dalam organisasi maupun gerak tumbuh organisasi itu sendiri. Satu dari sekian banyak momen yang terus mengingatkan saya untuk selalu percaya pada kekuatan yang ada dalam diri komunitas di Kampung. Kekuatan yang senantiasa menggerakkan kesadaran individu dan organisasi dalam kerja sama, menyelesaikan persoalan kebutuhan dasar, dan menumbuhkan kepercayaan diri.
Di banyak tempat, membangun kerja sama mungkin cukup dilakukan dengan menentukan tujuan, membagi peran, dan mengadakan evaluasi di akhir kegiatan. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu karena kita harus memastikan bahwa tujuan organisasi benar-benar menjadi tujuan bersama, menentukan peran yang tepat bagi setiap orang, dan mengukur perkembangan organisasi dengan objektif. Melalui pengalaman bersama Komunitas Passe’reanta inilah, saya belajar melihat dan memahami organisasi melalui cara pandang ibu-ibu di kampung. Catatan ini adalah sebuah potret dari proses mendialogkan rencana serta menentukan peran antaranggota dalam organisasi.
Antara Laut Tenang dan Lautan Bergelombang
“Berkelompok itu tidak selamanya tenang, juga tidak selamanya menghadapi musibah dan tantangan.” — Daeng Dinging
Refleksi dari Daeng Dinging tersebut bukan sekadar kalimat yang lahir dari satu atau dua hari proses berorganisasi. Sebagai organisasi perempuan di Pulau Satangnga, Passe’reanta telah berjalan selama lebih dari lima tahun dan melewati banyak dinamika serta pasang surut internal.

Pertemuan refleksi ini diawali dengan media pemantik yang sederhana namun mendalam, yaitu dua buah gambar kapal. Gambar pertama menampilkan kapal yang melaju mulus di atas lautan yang tenang, sedangkan gambar kedua memperlihatkan kapal yang berjuang keras menerjang badai dan ombak besar. Melalui kedua gambar ini, Komunitas Passe’reanta berkaca pada dinamika internal mereka dan menyadari bahwa organisasi telah berhasil melewati kedua fase tersebut.
Proses diskusi kelompok berjalan dengan sangat hidup karena ibu-ibu Passe’reanta kini sudah jauh lebih percaya diri untuk mengungkapkan pendapatnya. Meskipun terdapat tantangan literasi karena beberapa anggota belum lancar membaca dan menulis, hal tersebut tidak menjadi sekat pembatas. Semangat saling melengkapi di antara anggota justru membuat dinamika kelompok tetap berjalan dengan mulus. Dari hasil refleksi tersebut, terpetakan dengan jelas apa saja yang menjadi kekuatan dan tantangan mereka.
Kekuatan yang Menghidupkan (Laut Tenang)
Secara internal, Komunitas Passe’reanta terus mengalami pertumbuhan karena adanya kesadaran diri dan kemauan yang kuat dari para anggotanya untuk terus berkembang. Di sektor produksi, mereka telah berhasil mengolah aneka potensi lokal seperti sotong, kerang, dan kelapa menjadi produk bernilai jual seperti VCO (Virgin Coconut Oil), salonde, dan aneka kripik (sukun, kerang, dan sotong). Selain itu, kebun pangan mandiri di pekarangan rumah tangga juga mulai berkembang, di mana hasilnya tidak hanya dinikmati sendiri tetapi juga kerap dibagikan kepada tetangga yang membutuhkan.

Aktivitas produksi dan kebun pangan ini merupakan dua pilar utama Passe’reanta yang lahir dari refleksi mereka atas kegelisahan yang dirasakan secara individu dan bahkan pada skala lebih luas (kampung). Keduanya bermula dari permasalahan utang yang menjerat banyak keluarga akibat turunnya hasil laut nelayan dan naiknya harga bahan pokok. Gerakan produksi kerajinan dan makanan dilakukan sebagai upaya bersama untuk menambah pendapatan uang tunai, sedangkan kebun pangan berfungsi sebagai cara untuk mengurangi pengeluaran dapur yang sifatnya harian.
Dalam pembicaraan informal, muncul pertanyaan mengapa mereka tidak fokus meningkatkan produksi komersial saja tanpa harus repot berkebun. Ibu-ibu Passe’reanta memiliki alasan dasar yang sangat mulia, yaitu menanam sayur-mayur sendiri secara organik agar makanan yang dikonsumsi bebas dari bahan kimia berbahaya, sekaligus agar hasilnya bisa mendatangkan manfaat bagi tetangga sekitar. Aktivitas ini mendekatkan kembali hubungan antara manusia dengan makanan mereka, yang selama ini sering kali dipisahkan oleh sistem jual/beli atau uang.
Secara sosial, dukungan dari para suami juga menjadi angin segar yang memperkuat organisasi dari luar. Rasa saling menghargai, keterbukaan, dan kemampuan mengambil keputusan secara demokratis dalam pengelolaan kebun pekarangan telah menjadi modal sosial yang luar biasa. Bahkan, keberadaan Passe’reanta kini mulai diterima dengan baik oleh pemerintah dan masyarakat luas di Pulau Satangnga.
Meskipun pada awal berdirinya organisasi, beberapa anggota sempat mengalami penolakan dari keluarga dekat, seiring berjalannya waktu aktivitas mereka menemukan titik balik yang baik. Kegiatan positif organisasi dalam meningkatkan kapasitas anggota, mengelola produksi, berkebun, serta menjaga wilayah pesisir dari aktivitas merusak seperti bom ikan dan pembiusan, kini dinilai sebagai aksi nyata yang membawa dampak baik bagi kampung.
Tantangan yang Mengadang (Lautan Bergelombang)
Namun, badai di dalam organisasi tetap ada dan harus dihadapi. Di sektor produksi, tantangan umum seperti pemasaran yang kurang lancar, minimnya keuntungan dari beberapa jenis produk, serta belum adanya legalitas label halal masih menjadi ganjalan utama. Hambatan-hambatan teknis ini kemudian dijadikan sebagai tema utama dalam pertemuan rutin organisasi. Menariknya, momen penyelesaian masalah teknis ini justru menjadi peluang untuk menjalin kembali kedekatan antaranggota sekaligus memulihkan hubungan sosial yang renggang akibat berbagai beban hidup di kampung.
Secara internal organisasi, kesibukan rumah tangga dan pekerjaan masing-masing anggota terkadang membuat waktu untuk berkumpul menjadi hal yang istimewa. Di samping itu, terdapat tantangan sosial dan lingkungan yang jauh lebih besar, yaitu kesulitan dalam mengingatkan warga lain agar tidak mengambil pasir pantai secara liar dan tidak membuang sampah sembarangan ke laut. Ibu-ibu Passe’reanta menyadari satu hal secara jujur: jika tantangan internal dan kelestarian lingkungan ini diabaikan begitu saja, organisasi dapat menjadi organisasi yang tidak memiliki dampak ke kampung dan lingkungan sekitar akan menghadapi kerusakan yang lebih besar.

Memantik Refleksi melalui Sebuah Cerita dan Gambar
Pertemuan organisasi Komunitas Passe’reanta kali ini menjadi sebuah ruang belajar yang berbeda dari biasanya. Pertemuan ini dirancang sebagai alat pendidikan yang bertujuan untuk merefleksikan berbagai masalah internal yang sedang dihadapi di dalam organisasi. Untuk mencari jalan keluar bersama, metode yang digunakan bukan sekadar ceramah teori yang kaku, melainkan metode refleksi cerita dan ilustrasi visual. Pendekatan ini sengaja dipilih karena sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari para anggota, sehingga setiap orang dapat bercermin dan memahami situasi organisasi dengan lebih mudah dan menyentuh hati.
Salah satu pemantik diskusi yang paling menarik adalah sebuah cerita lokal yang diberi judul “Lima Saribattang[1] Memasak Coto”. Ibu-ibu yang hadir diajak untuk mendengarkan kisah tentang lima orang bersaudara yang memiliki keinginan besar untuk memasak makanan khas Coto Makassar, namun mereka sama sekali tidak memiliki buku resep sebagai panduan. Akibat ketiadaan panduan tersebut, setiap orang akhirnya memasak dengan mengikuti ego dan keinginannya masing-masing tanpa mau mendengar yang lain. Hasil akhir dari masakan tersebut bisa ditebak; proses memasak gagal total, rasanya kacau, dan hidangan itu sama sekali tidak bisa disebut sebagai Coto Makassar.
Cerita sederhana ini seketika menjadi cermin besar bagi seluruh pengurus dan anggota organisasi Passe’reanta. Masakan yang gagal tersebut merupakan simbol nyata dari sebuah organisasi yang berjalan tanpa perencanaan, tanpa koordinasi, dan tanpa komitmen bersama. Melalui kisah ini, para anggota berhasil memetik tiga pelajaran penting untuk memperbaiki rumah tangga organisasi mereka.
Pelajaran pertama adalah pentingnya sebuah rencana tertulis yang diibaratkan sebagai “Resep”. Kelompok harus memiliki panduan sebagai Kompas yang tertulis agar setiap pengurus tidak berjalan sendiri-sendiri menurut seleranya. Melalui resep organisasi inilah, Passe’reanta dapat melihat kembali seluruh kegiatan mereka dan merenungkan nilai atau manfaat apa saja yang sebenarnya telah dihasilkan organisasi, baik untuk anggota di dalam maupun untuk masyarakat luas di luar organisasi.
Pelajaran kedua yang tidak kalah penting adalah konsep kepemimpinan bersama. Di dalam sebuah organisasi, ego individu tidak boleh sekadar diredam atau ditekan, melainkan harus dikelola dengan bijak. Kepentingan setiap orang perlu diselaraskan agar dapat menghasilkan koordinasi kerja yang rapi dan harmonis. Tentu saja, pengelolaan kepentingan ini harus tetap berada dalam koridor dan jangkauan tujuan utama organisasi sebagai tujuan bersama yang ingin dicapai. Sementara itu, pelajaran ketiga adalah pentingnya musyawarah. Segala sesuatu, sekecil apa pun itu, sangat penting untuk didiskusikan terlebih dahulu sebelum dieksekusi. Kebiasaan bermusyawarah inilah yang nantinya akan melahirkan rasa saling percaya, keterbukaan, dan kerja sama yang solid di antara sesama anggota.

Sebagai tindak lanjut nyata dari filosofi resep masakan tersebut, Komunitas Passe’reanta kemudian bergerak bersama menyusun “resep” kerja mereka sendiri untuk menghadapi tahun 2026. Resep besar ini dituangkan ke dalam bentuk Kalender Kerja dan Produksi yang mencakup tiga pilar utama pembangunan komunitas. Ketiga pilar tersebut adalah Pengembangan Organisasi yang berfokus pada peningkatan kapasitas para anggotanya, Pengembangan Usaha demi meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga, serta Pengembangan Kebun Pangan sebagai fondasi ketahanan pangan mandiri.
Secara taktis dan penuh kesadaran, mereka mulai memetakan masalah dan mendiskusikannya ke dalam kelompok untuk merumuskan solusi nyata yang langsung dituangkan ke dalam kalender aktivitas tahunan. Untuk mengatasi masalah pemasaran produk yang sempat macet, mereka merumuskan solusi Pemasaran & Kebun yang unik. Mereka memilih menggunakan pendekatan kekeluargaan, sebuah pola hubungan interpersonal yang hangat ala orang di kampung. Selain memasarkan produk secara mandiri, mereka juga sepakat untuk mulai memanfaatkan media sosial secara aktif dengan melibatkan anggota muda dan anak dari ibu-ibu anggota Passe’reanta yang lebih paham teknologi.
Sedangkan untuk kebun pangan yang selama ini dinilai belum berjalan dengan baik, seluruh anggota berkomitmen untuk turun tangan memperbaiki bedengan di setiap lokasi anggota organisasi. Mereka juga bersepakat untuk melakukan pembibitan ulang secara bersama-sama serta memproduksi pupuk kompos mandiri dengan memanfaatkan sampah organik dari rumah tangga masing-masing.
Tidak hanya urusan produksi, masalah keorganisasian dan legalitas juga mendapatkan perhatian serius. Guna mengatasi sulitnya mencocokkan waktu untuk berkumpul, mereka menyepakati pembuatan jadwal pertemuan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap kesibukan rumah tangga ibu-ibu. Sementara untuk mengatasi masalah sosial seperti maraknya pengambilan pasir di lingkungan sekitar, organisasi memilih jalan damai dengan berkomitmen untuk mengingatkan warga secara perlahan, persuasif, dan menyentuh hati tanpa perlu memicu konflik terbuka.
Semua komitmen ini kemudian dikunci dalam bentuk Kalender Produksi 2026 yang dirancang sangat adaptif terhadap perubahan musim dan ketersediaan bahan baku di Pulau Satangnga. Sebagai contoh, produk andalan mereka seperti Salonde akan digenjot kapasitas produksinya pada bulan Mei hingga Oktober, tepatnya pada minggu kedua setiap bulannya. Sementara itu, produk minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) dijadwalkan untuk diproduksi pada awal tahun, yaitu sekitar bulan Januari hingga Februari, serta dilanjutkan pada pertengahan tahun antara bulan Juli hingga September. Untuk produk sampingan seperti Keripik Sukun, jadwal produksinya disesuaikan dengan musim panen buah sukun yang jatuh pada bulan September hingga Oktober. Sedangkan untuk produk Keripik Kerang dan Keripik Sotong, jadwal pastinya akan dirapatkan kembali dalam waktu dekat guna memastikan kesiapan bahan baku di laut serta kesiapan teknis tim produksi.
Ilustrasi Sepeda; peran dan sikap Organisasi
Setelah membahas resep kerja, proses refleksi organisasi ini kemudian diperdalam lagi melalui sebuah ilustrasi visual yang sangat kuat, yaitu gambar sebuah sepeda. Sepeda dipilih sebagai simbol karena ia adalah alat transportasi sederhana yang membutuhkan keseimbangan agar bisa bergerak maju ke depan tanpa terjatuh. Organisasi Passe’reanta membedah sepeda ini menjadi dua bagian utama yang saling melengkapi.
Bagian pertama adalah Roda Belakang yang disimbolkan sebagai Tugas dan Peran Struktural organisasi. Roda belakang ini berfungsi sebagai penggerak utama yang mendorong sepeda untuk berjalan. Di dalam tubuh Passe’reanta, peran penggerak ini diisi oleh jajaran pengurus inti, mulai dari Ketua yang berfungsi sebagai penyambung informasi kegiatan, Sekretaris yang bertugas mengurus surat-menyurat, undangan, dan penataan aset, Bendahara yang bertanggung jawab penuh mengelola keuangan, hingga Anggota yang bergerak sebagai tim produksi dan pemasaran di garda depan. Namun, refleksi ini mengingatkan bahwa peran-peran ini bukan sekadar soal jabatan mentereng di atas kertas, melainkan tentang tindakan nyata untuk merencanakan, mengawal, dan menyepakati setiap keputusan bersama.
Bagian kedua adalah Roda Depan yang disimbolkan sebagai Sikap dan Hubungan Antarmanusia. Roda depan ini memiliki fungsi yang sangat krusial, yaitu sebagai penentu arah ke mana organisasi akan melangkah. Komunitas Passe’reanta menggarisbawahi dengan sangat tegas bahwa jika roda depan tidak dirawat dengan baik, maka sepeda organisasi dipastikan akan oleng dan terjatuh. Oleh karena itu, sikap-sikap positif harus tertanam kuat untuk mengarahkan jalannya organisasi. Sikap tersebut meliputi komitmen untuk saling mendukung, jujur dalam segala hal, terbuka terhadap kritik, saling percaya, membuang jauh-jauh rasa iri hati, serta tidak saling menyalahkan satu sama lain ketika organisasi menghadapi kegagalan produksi atau ujian lainnya.

Melalui ilustrasi ini, perlahan anggota mulai melihat keterhubungan serta dampaknya jika salah satu roda diabaikan—baik itu roda struktural maupun roda hubungan emosional—maka “sepeda” Passe’reanta akan mengalami berbagai masalah serius. Mulai dari perselisihan internal, salah paham yang berlarut-larut, munculnya rasa saling curiga, macetnya roda ekonomi dan produksi, hingga ancaman yang paling fatal yaitu pembubaran organisasi. Kesimpulannya, organisasi yang sehat harus memiliki kedua hal tersebut secara seimbang: kejelasan peran lewat kepemimpinan bersama serta kualitas hubungan personal yang saling mendukung.
Salah satu momentum paling dewasa dan mencerahkan dalam pertemuan ini terjadi saat sesi dialog antara Komunitas Passe’reanta dengan organisasi mitra belajar mereka, yaitu Cita Tanah Mahardika (CTM). Dialog ini sengaja dibuka sebagai ruang bersama untuk merefleksikan rencana strategis (renstra) CTM dan menyusun jadwal yang sesuai dengan waktu luang anggota Passe’reanta.
Dari hasil refleksi, ibu-ibu Passe’reanta menilai bahwa kehadiran dan pendampingan yang diberikan oleh Cita Tanah Mahardika selama ini sudah sangat baik dan mendukung kebutuhan nyata mereka di lapangan. Pendampingan tersebut mencakup banyak aspek vital, mulai dari lokakarya pengembangan kapasitas individu dan organisasi, pendampingan manajemen usaha (seperti pengenalan Business Model Canvas atau BMC dan manajemen keuangan), hingga pendampingan teknis di kebun pangan. Nilai-nilai pemberdayaan yang dibawa oleh Cita Tanah Mahardika dinilai sangat selaras dengan prinsip dasar Passe’reanta, terutama dalam hal akuntabilitas atau keterbukaan serta nilai demokratis dalam pengambilan keputusan bersama.
Meskipun hubungan yang terjalin sudah sangat baik, kedua belah pihak menyadari bahwa kemitraan yang sehat dan berkelanjutan memerlukan batasan yang jelas dan sehat agar kemandirian dapat tetap tumbuh. Dalam lokakarya ini, batasan tersebut disepakati dengan penuh kesadaran.
Kemitraan yang Setara: Menjaga Batas dan Menumbuhkan Jiwa
Lahirlah beberapa kesepakatan antara Passerenta’ dan Cita Tanah Mahardika agar nyala api dalam jiwa tetap terjaga dibarengi dengan batasan yang sehat untuk terus tumbuh dalam kemandirian. Kesepakatan pertama menetapkan bahwa Komunitas Passe’reanta memegang kendali penuh dan kedaulatan atas seluruh aktivitas utama mereka, mulai dari pengelolaan kebun, proses produksi usaha, hingga proses pengembangan diri yang didasarkan pada pengalaman lapangan mereka sendiri. Kesepakatan kedua menegaskan bahwa Cita Tanah Mahardika memosisikan diri sebagai fasilitator yang mendukung penuh proses pembelajaran komunitas. Tugas mereka adalah memfasilitasi peningkatan kapasitas manusia serta membantu memikirkan strategi pemasaran dan pengelolaan kebun pangan tanpa pernah mengintervensi kedaulatan internal komunitas. Dialog yang jujur ini melahirkan kesadaran baru bahwa Cita Tanah Mahardika, sama halnya dengan Passe’reanta, adalah organisasi yang juga sedang terus belajar, berproses, berbenah diri, dan berjalan bersama karena memiliki cita-cita luhur yang sama.

Setelah melewati rangkaian diskusi yang panjang, lokakarya yang melelahkan namun penuh dengan kebahagiaan ini akhirnya ditutup dengan sesi rekapitulasi yang sangat hangat di ujung hari. Ketika ibu-ibu diminta secara bergantian untuk menyampaikan apa hal yang paling berkesan bagi mereka selama pertemuan, ruang pertemuan mendadak dipenuhi oleh satu benang merah emosional yang sama, yaitu pentingnya kekompakan dan kerja sama.
Suasana haru dan ceria bercampur aduk saat ingatan demi ingatan diungkapkan kembali. Ada Daeng Sugi yang mengingat filosofi ketangguhan dari analogi ombak di laut, serta Daeng Puji dan Daeng Lele yang mengaku sangat terkesan dengan filosofi mendalam dari roda sepeda organisasi. Suasana semakin meriah dengan keceriaan dari Daeng Tarring yang merasa sangat berkesan saat menampilkan drama apresiasi keberhasilan bersama dengan rekan-rekan kelompoknya, yaitu Daeng Dingin, Daeng Jinne, dan Daeng Lebang.
Semua refleksi, tawa, dan komitmen sore itu akhirnya bermuara pada satu kesimpulan indah yang dirangkum oleh Salma, salah seorang penggerak muda di Komunitas Passe’reanta. Dengan penuh penekanan ia menyampaikan;
“jika di antara sesama anggota tidak ada lagi kemauan untuk saling mendengarkan di dalam kelompok, maka rasa saling percaya akan hilang. Begitu pula di dalam kelompok ini, jika semua anggota tidak menjaga kekompakan, maka organisasi akan sangat gampang terpecah belah oleh perselisihan.”
Kata-kata penutup tersebut menegaskan bahwa Komunitas Passe’reanta kini melangkah menuju tahun 2026 bukan lagi dengan mata yang buta tanpa arah. Mereka melangkah penuh percaya diri dengan “resep masakan” organisasi yang jelas di tangan, kayuhan roda sepeda yang seimbang antara peran dan sikap, serta komitmen yang teguh untuk selalu saling mendengarkan. Lautan luas di depan mereka mungkin saja akan kembali memicu ombak yang besar, tetapi di atas kapal organisasi Passe’reanta, ibarat pelaut yang tangguh, para penggerak organisasi ini telah berjanji untuk saling menguatkan satu sama lain hingga mereka tiba bersama di pelabuhan cita-cita
***
[1] Bahasa Bugis Makassar yang artinya Sahabat atau Saudara.






