Jalepa membawa saya dan ketiga pegiat CTM lainnya meninggalkan Pulau Satangnga. Arus ombak cukup baik pagi ini, tapi tetap mampu menggoyang perahu tak bercadik yang kami kendarai. Berangsur singkat, Aco...
Tulisan “selamat datang” terpampang di sebuah kertas plano, tepat di samping Abrisal yang tengah menyambut ibu-ibu dan bapak-bapak yang datang dari Pulau Satangnga, Kepulauan Tanakeke, Takalar. Setelah bertukar kabar, pria...
Pada bagian kedua ini, saya akan melanjutkan kisah para patorani dalam tulisan Patorani di Bauluang: Sebuah Catatan Reflektif dari Lapangan (Bagian 1). Dalam tulisan ini, saya menjelaskan tiga hal. Pertama, penjelasan...
Kelompok perempuan penggerak untuk perubahan “Passe’reanta”, bersama pegiat Cita Tanah Mahardika melakukan suatu lokakarya selama tiga hari di Pulau Satangnga pada tanggal 11-13 September 2024. Proses belajar bersama ini dilaksanakan...
Tulisan sederhana ini merupakan hasil dari proses belajar bersama-sama dengan organisasi perempuan di Pulau Satangnga, Takalar: Passe’reanta. Dalam tulisan ini akan disajikan beberapa proses Passe’reanta dalam menangani urusan-urusan administratif...
“Hanya melalui komunikasi kehidupan manusia dapat memiliki makna.” Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas --- Pada tulisan ini, saya akan berbagi cerita berdasarkan pengalaman pribadi. Cerita yang saya tuliskan ini tentang...
"Melihat ke masa lalu hendaknya hanya menjadi sarana untuk memahami lebih jelas apa dan siapa mereka agar bisa lebih bijak membangun masa depan." Paulo Freire, Pendidikan Kaum Tertindas Jagad Samudera...
Sejak awal 2023, dalam beberapa kesempatan, saya dan beberapa pegiat dari Cita Tanah Mahardika silih berganti mengunjungi sebuah pulau di Kepulauan Tanakeke, Takalar. Pulau itu dinamai Pulau Satangnga. Sebagian besar...
Tulisan ini adalah seri "cerita dari kampung" yang ditulis setelah melakukan proses belajar dan listening survey di Pulau Bauluang, Kepulauan Tanakeke, Takalar